Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan lapisan makna yang dalam seolah ada ruang kosong yang pernah penuh, lalu kini terasa sunyi. Bukan rindu kepada manusia, bukan pula pada kenangan dunia yang fana, melainkan rindu pada sajadah yang pernah menjadi saksi bisu dari dialog paling jujur antara seorang hamba dan Tuhannya.
Ada masa di mana waktu terasa lapang, bukan karena tidak sibuk, tetapi karena hati tahu ke mana harus pulang. Setiap panggilan azan bukan sekadar suara yang melintas, melainkan undangan yang dinanti. Kaki melangkah ringan menuju sajadah, bukan sebagai kewajiban yang membebani, melainkan kebutuhan yang menenangkan. Di sanalah, di atas hamparan sederhana itu, seseorang menemukan dirinya yang paling utuh tanpa topeng, tanpa tuntutan dunia, tanpa harus menjadi siapa-siapa selain hamba.
Namun waktu berjalan, dan manusia sering kali terseret arusnya. Kesibukan menjadi dalih, kelelahan menjadi alasan, dan dunia perlahan mengambil alih ruang yang dulu diisi oleh ketenangan sujud. Sajadah yang dulu hangat oleh rindu kini terlipat, menunggu disentuh kembali. Bukan karena dilupakan sepenuhnya, tetapi karena hati sedang menjauh, tanpa sadar.
Rindu itu datang diam-diam. Ia tidak mengetuk dengan keras, tetapi menyelinap di sela-sela keheningan. Mungkin saat malam terlalu sunyi, atau ketika hidup terasa berat tanpa arah yang jelas. Ada kekosongan yang tidak bisa dijelaskan, seperti ada bagian dari diri yang hilang. Dan di situlah, rindu itu berbicara, rindu untuk kembali bersujud, rindu untuk kembali dekat, rindu untuk kembali menjadi kecil di hadapan Yang Maha Besar.
“Aku rindu waktu membersamaimu tanpa jeda” adalah pengakuan yang jujur. Bahwa dulu, ada hubungan yang begitu dekat, begitu hangat, begitu tulus. Tidak ada jeda antara hati dan doa. Tidak ada jarak antara air mata dan pengampunan. Semua terasa mengalir, seperti sungai yang tahu arah pulangnya ke laut.
Kini, mungkin doa masih terucap, tetapi terasa berbeda. Ada jeda. Ada kekakuan. Ada rasa canggung yang tidak pernah ada sebelumnya. Seperti dua sahabat yang lama tidak bertemu, ada rasa ingin mendekat tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Padahal Tuhan tidak pernah menjauh. Dialah yang selalu ada, yang selalu menunggu, yang tidak pernah bosan menerima hamba-Nya kembali, meski telah berkali-kali pergi.
Rindu pada sajadah sejatinya adalah rindu pada diri sendiri, pada versi diri yang lebih jujur, lebih tenang, lebih berserah. Di atas sajadah, tidak ada yang perlu disembunyikan. Air mata jatuh tanpa perlu alasan yang logis. Kata-kata terucap tanpa harus indah. Bahkan diam pun sudah cukup menjadi doa. Karena Tuhan tidak menilai kefasihan, tetapi keikhlasan.
Ada keindahan dalam sujud yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Saat dahi menyentuh tanah, ada kerendahan yang justru mengangkat derajat jiwa. Saat tubuh tunduk, hati justru terasa lebih kuat. Di situlah manusia belajar bahwa tidak semua yang terlihat rendah itu hina, dan tidak semua yang tinggi itu mulia. Dalam sujud, manusia menemukan keseimbangan antara kehinaan sebagai hamba dan kemuliaan sebagai makhluk yang dicintai.
Rindu itu tidak harus disesali. Ia justru menjadi tanda bahwa hati masih hidup. Bahwa masih ada cahaya kecil yang belum padam. Karena yang benar-benar hilang bukanlah mereka yang jauh, tetapi mereka yang tidak lagi merasa rindu. Selama rindu itu masih ada, jalan pulang selalu terbuka.
Mungkin langkah pertama terasa berat. Mungkin ada rasa malu, seolah-olah tidak pantas untuk kembali. Namun bukankah Tuhan Maha Pengasih? Bukankah Dia lebih mengenal isi hati daripada manusia itu sendiri? Tidak ada syarat untuk kembali selain kemauan. Tidak ada batasan waktu untuk memulai ulang. Bahkan satu sujud yang tulus bisa menjadi awal dari perjalanan panjang yang telah lama tertunda.
Sajadah itu masih sama. Ia tidak berubah. Ia tidak menghakimi. Ia hanya menunggu. Menunggu jejak kaki yang pernah akrab, menunggu tubuh yang pernah bersimpuh, menunggu hati yang pernah begitu dekat. Dan ketika akhirnya seseorang kembali, sajadah itu seakan berkata tanpa suara, “Aku tidak pernah ke mana-mana. Aku hanya menunggumu pulang.”
“Aku rindu waktu membersamaimu tanpa jeda” bukan sekadar kalimat puitis, tetapi panggilan jiwa. Ia mengingatkan bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan, ada tempat yang selalu tenang. Bahwa di balik segala pencapaian dunia, ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun selain kedekatan dengan Sang Pencipta.
Dan mungkin, rindu itu bukan untuk dikenang saja, tetapi untuk ditindaklanjuti. Bukan untuk diratapi, tetapi untuk dijawab. Karena rindu yang sejati selalu ingin bertemu. Dan pertemuan itu dimulai dari satu langkah kecil, kembali membuka sajadah, kembali berdiri, lalu perlahan menunduk, hingga akhirnya bersujud.
Tanpa jeda.