📢 Selamat datang di e-GalihOS! Temukan artikel menarik seputar teknologi, alkisah dan tips blog kreatif setiap minggunya! 🌐📱 📢

Perbedaan cara kerja otak laki-laki dan perempuan.



Mengapa wanita sering merasa paling stres meski sudah dibantu adalah pertanyaan yang berulang kali muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan ini biasanya lahir dari kebingungan, bahkan kelelahan dua arah. Di satu sisi, ada laki-laki yang merasa telah berusaha membantu sebisanya. Di sisi lain, ada wanita yang tetap merasa lelah, sesak, dan kewalahan, seolah bantuan itu tidak pernah cukup. Banyak yang lalu salah paham, saling menyalahkan, atau diam dalam jarak emosional yang semakin melebar. Padahal, menurut kajian neuropsikologi yang dijelaskan oleh dr. Aisah Dahlan, akar masalahnya bukan pada niat, bukan pada kurangnya cinta, melainkan pada perbedaan cara kerja otak laki-laki dan perempuan.

Dalam seminar-seminar Neuroparenting, dr. Aisah Dahlan sering menjelaskan bahwa otak perempuan dan laki-laki tidak bekerja dengan pola yang sama. Otak perempuan memiliki koneksi yang jauh lebih banyak antara otak kiri dan otak kanan. Koneksi ini membuat perempuan mampu memproses banyak hal sekaligus, menghubungkan logika dengan emosi, fakta dengan perasaan, dan kejadian dengan makna. Inilah yang membuat perempuan sangat peka, sangat detail, dan sangat sadar akan banyak hal dalam satu waktu. Namun kelebihan ini sekaligus menjadi sumber kelelahan yang luar biasa.

Ketika seorang wanita menjalani hari, otaknya tidak hanya memikirkan satu tugas. Ia memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang, apa yang akan terjadi nanti, apa yang dirasakan orang lain, dan apa dampak dari setiap keputusan kecil. Bahkan saat ia duduk diam, otaknya tetap aktif. Inilah sebabnya mengapa seorang wanita bisa terlihat “tidak melakukan apa-apa” tetapi merasa sangat lelah. Yang bekerja keras bukan hanya tubuhnya, melainkan pikirannya.

Berbeda dengan otak laki-laki yang cenderung fokus pada satu hal dalam satu waktu, otak perempuan bekerja seperti banyak tab yang terbuka bersamaan. Dalam penjelasan dr. Aisah Dahlan, otak laki-laki lebih terstruktur dan terfokus, sementara otak perempuan lebih menyebar dan relasional. Maka ketika laki-laki membantu satu pekerjaan dan merasa tugas itu selesai, perempuan belum tentu merasa bebannya berkurang. Karena di kepalanya, pekerjaan itu hanyalah satu bagian kecil dari rangkaian panjang tanggung jawab yang saling terhubung.

Inilah mengapa bantuan fisik sering kali tidak cukup untuk meredakan stres perempuan. Ketika seorang laki-laki berkata, “Aku sudah membantu,” ia berbicara dari sudut pandang otak yang fokus pada satu tugas. Namun perempuan mendengarnya dari otak yang masih memikirkan banyak hal lain yang belum selesai. Bukan karena ia tidak menghargai bantuan itu, melainkan karena sistem sarafnya belum menemukan rasa aman.

Menurut kajian neuroparenting, perempuan memiliki sistem emosi yang lebih aktif. Hormon oksitosin yang dominan dalam tubuh perempuan membuat mereka sangat sensitif terhadap relasi dan keterhubungan emosional. Stres pada perempuan sering kali bukan tentang pekerjaan yang berat, tetapi tentang perasaan tidak ditemani secara emosional. Ketika ia merasa sendirian dalam memikul tanggung jawab, otaknya akan terus siaga, terus waspada, dan akhirnya lelah.

Masalah menjadi semakin dalam ketika bantuan datang tanpa empati. Ketika perempuan masih terlihat stres lalu mendapat respons seperti “kan sudah dibantu” atau “kenapa sih masih capek,” otaknya tidak menangkap itu sebagai dukungan, melainkan sebagai ancaman emosional. Dalam neuropsikologi, kondisi ini memicu respons stres karena perempuan merasa tidak dipahami. Bukan hanya bebannya tidak berkurang, tetapi perasaannya juga tidak diakui.

Dr. Aisah Dahlan sering menekankan bahwa perempuan membutuhkan validasi emosi sebelum solusi. Otak perempuan perlu merasa aman terlebih dahulu sebelum bisa tenang. Ketika perasaannya diakui, sistem saraf parasimpatis mulai aktif, dan stres perlahan menurun. Tanpa validasi, bantuan fisik justru bisa terasa kosong.

Wanita juga dibesarkan dengan pola asuh dan budaya yang menanamkan rasa tanggung jawab berlapis. Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk peduli, mengalah, mengurus, dan memikirkan orang lain. Pola ini tertanam kuat di otak bawah sadar dan terbawa hingga dewasa. Maka meski sudah dibantu, perempuan tetap merasa bertanggung jawab penuh atas hasil akhirnya. Ia tidak bisa benar-benar “lepas,” karena otaknya terus mengingatkan bahwa jika terjadi sesuatu, ia yang akan disalahkan.

Di sinilah letak kelelahan yang sering tidak terlihat. Bukan karena perempuan ingin mengontrol, tetapi karena otaknya tidak diberi sinyal aman untuk berhenti berjaga. Ia bukan tidak bersyukur, tetapi terlalu lama terbiasa menanggung semuanya sendiri.

Solusi dari sudut pandang neuroparenting bukanlah menambah bantuan, melainkan mengubah cara membantu. Yang dibutuhkan perempuan bukan hanya tangan yang bekerja, tetapi kehadiran yang memahami. Ketika laki-laki mengambil alih tanggung jawab secara utuh tanpa perlu diarahkan, otak perempuan mulai merasa aman. Ketika laki-laki mendengarkan tanpa menyela, tanpa langsung memberi solusi, sistem emosional perempuan perlahan tenang. Ketika laki-laki berkata, “Aku paham kenapa kamu capek,” itu bukan kalimat biasa, melainkan sinyal biologis yang menenangkan sistem saraf.

Perempuan juga membutuhkan ruang untuk tidak kuat, namun laki-laki tidak demikian, meraka dituntut untuk kuat oleh dunia dan seisinya sampai akhir hayatnya. Dalam kajian neuropsikologi, menahan emosi terlalu lama akan membuat otak limbik terus aktif dan akhirnya memicu kelelahan emosional. Ketika perempuan diberi izin untuk menangis, mengeluh, atau merasa lemah tanpa dihakimi, otaknya justru lebih cepat pulih.

Kesimpulannya, wanita merasa paling stres meski sudah dibantu bukan karena bantuan itu sia-sia, tetapi karena bantuan tersebut belum menyentuh cara kerja otaknya. Perbedaan otak laki-laki dan perempuan bukanlah kelemahan salah satu pihak, melainkan fakta biologis yang perlu dipahami. Perempuan memproses dunia dengan emosi, relasi, dan keterhubungan yang lebih kompleks. Tanpa empati dan validasi, bantuan hanya menyentuh permukaan, bukan inti.

Ketika laki-laki mulai memahami bahwa menenangkan perempuan bukan tentang menyelesaikan semua masalah, melainkan tentang menghadirkan rasa aman, maka hubungan berubah. Stres berkurang bukan karena pekerjaan selesai, tetapi karena hati merasa ditemani. Dan di sanalah, perempuan akhirnya bisa bernapas lega, bukan karena bebannya hilang sepenuhnya, tetapi karena ia tidak lagi memikulnya sendirian.

Teori Neuroparenting diciptakan untuk memahami pola kerja otak anak dan orang tua agar pengasuhan lebih sadar, empatik, dan efektif.

SIMAK VIDEONYA, MENONTON SAMPAI HABIS, AGAR TIDAK DISINFORMASI.


GALIHOS

Saya seorang blogger dan vlogger. Hidup saya adalah kumpulan cerita, yang terekam dalam piksel dan kata-kata. Saya berkembang di bawah tekanan dengan menjunjung tinggi profesionalitas, merangkul seni, cita rasa, dan jalan yang tak berujung. Alam adalah tempat istirahat saya. Namun, hanya sedikit yang tahu obsesi saya dengan disiplin ilmu spionase, peretasan dan kejahatan digital. Saya mempelajari infiltrasi, enkripsi dan cara melacak jejak digital. Hanya sekadar pembelajaran atau begitulah yang saya kira. Setiap petualangan, setiap rahasia, saya dokumentasikan. Media sosial saya menyimpan masa lalu saya, kebenaran yang mutlak. Satu hal yang pasti, saya akan menjaga konfidensial saya, karena selalu ada penipu yang menyamar sebagai pendengar dan selalu ada pendengar yang mengintai dalam kegelapan.

Lebih baru Lebih lama