Forum Penantang PBB Buatan Amerika, dan Gimik Donald Trump, Ketika Perdamaian Menjadi Proyek Kekuasaan
Dalam sejarah politik global, kata peace (perdamaian) hampir selalu terdengar indah namun jarang netral. Di baliknya, kerap bersembunyi kepentingan, strategi, bahkan operasi psikologis tingkat tinggi. Dunia internasional tidak pernah kekurangan lembaga perdamaian; yang selalu kurang adalah kejujuran tentang siapa yang diuntungkan.
Munculnya gagasan Board of Peace, sebuah forum perdamaian alternatif yang secara ideologis menantang dominasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak bisa dibaca sebagai upaya moral semata. Terlebih ketika narasi ini dilekatkan pada figur seperti Donald J. Trump, presiden Amerika Serikat yang terkenal bukan karena diplomasi halus, tetapi karena politik simbol, gimik, dan tekanan terbuka.
PBB dan Kelelahannya: Celah yang Disengaja
PBB lahir dari trauma Perang Dunia II. Ia dirancang sebagai penjaga tatanan, bukan sebagai penantang kekuasaan. Namun setelah puluhan tahun, PBB menghadapi krisis legitimasi:
- Dewan Keamanan didominasi veto lima negara besar
- Resolusi sering tak bergigi
- Konflik besar diselesaikan di luar PBB (Afghanistan, Irak, Ukraina, Gaza)
Di titik ini, PBB terlihat lelah, lamban, dan mudah disalip.
Bagi Amerika Serikat, khususnya faksi nasionalis-konservatif ala Trump, kelemahan PBB bukan masalah, melainkan peluang. Ketika PBB dianggap terlalu “globalis”, terlalu multilateral, dan terlalu lambat, maka forum alternatif bisa dijual sebagai solusi cepat dan tegas.
Di sinilah Board of Peace menemukan momentumnya.
Board of Peace: Forum Alternatif atau Alat Fragmentasi Global?
Secara konsep, Board of Peace dipromosikan sebagai:
- Forum perdamaian non-birokratis
- Lebih fleksibel dari PBB
- Tidak terikat kepentingan globalis
- Berbasis kepemimpinan negara kuat
Namun dalam kacamata intelijen politik, ciri-ciri ini justru mencurigakan.
Forum alternatif sering kali bukan untuk menggantikan sistem lama, tetapi untuk:
- Melemahkan legitimasi sistem utama
- Menciptakan poros loyalitas baru
- Memecah konsensus global
Jika PBB adalah arena multilateral yang lambat, maka Board of Peace diposisikan sebagai ruang elit, selektif, dan cepat. Cepat mengambil keputusan dan cepat pula mengunci kepentingan.
Donald Trump dan Politik Gimik Strategis
Donald Trump bukan diplomat klasik. Ia adalah pengusaha simbol. Dalam politik, ia memahami satu hal dengan sangat baik:
Persepsi publik sering lebih penting daripada struktur hukum.
Bagi Trump, Board of Peace adalah:
- Branding: “Trump sebagai pembawa damai”
- Kontra-narasi: melawan elit global PBB
- Warisan politik: meninggalkan jejak institusional
Trump tidak perlu forum itu benar-benar efektif. Cukup terlihat berbeda, cukup menarik kamera, dan cukup menantang tatanan lama.
Dalam dunia intelijen, ini disebut strategic theater, panggung politik yang tujuannya bukan hasil, tetapi pengaruh psikologis dan geopolitik.
Amerika dan Gagasan Perdamaian Versi Sendiri
Amerika Serikat punya sejarah panjang dalam menciptakan “lembaga internasional” versi mereka:
- Bretton Woods
- IMF dan World Bank
- NATO
Semua dibungkus dengan bahasa stabilitas dan perdamaian, tetapi beroperasi sebagai arsitektur kekuasaan.
Board of Peace, jika benar-benar diwujudkan, tidak akan netral. Ia akan:
- Mengikuti logika keamanan Amerika
- Memihak kepentingan sekutu tertentu
- Mengisolasi negara yang “tidak kooperatif”
Dengan kata lain: perdamaian bersyarat.
Lalu Indonesia: Mengapa Bergabung? Atau Mengapa Didekati?
Indonesia bukan negara kecil. Dalam peta geopolitik:
- Anggota G20
- Pemimpin informal Global South
- Tradisi politik luar negeri bebas aktif
- Sejarah non-blok yang kuat
Jika Indonesia terlihat “bergabung” atau setidaknya didekati, itu bukan kebetulan.
Ada beberapa kemungkinan strategi terselubung:
1. Indonesia sebagai Legitimator Moral
Indonesia punya citra:
- Negara muslim moderat
- Demokrasi besar
- Tidak agresif
Keikutsertaan Indonesia dapat digunakan untuk:
“Melihat? Ini bukan forum Amerika saja. Indonesia pun ada.”
Dalam intelijen politik, ini disebut moral laundering, membersihkan agenda besar lewat aktor yang dianggap netral.
2. Penyeimbang Cina dan Rusia di Global South
Amerika paham:
- Indonesia tidak anti-Barat
- Tapi juga tidak anti-Timur
Dengan menarik Indonesia ke forum alternatif, Amerika berupaya:
- Mengurangi ruang pengaruh Cina
- Mengganggu konsolidasi BRICS
- Membelah solidaritas Global South
Bukan dengan tekanan keras, melainkan dengan undangan kehormatan.
3. Indonesia sebagai Target, Bukan Aktor
Jika Indonesia tidak berhati-hati, keikutsertaan simbolik bisa berubah menjadi alat legitimasi kebijakan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip bebas aktif.
Apakah Indonesia Punya Agenda Sendiri?
Di sisi lain, jangan meremehkan Indonesia. Ada kemungkinan Indonesia justru:
- Masuk untuk membaca peta
- Mengamati dari dalam
- Mengamankan kepentingan nasional
- Menjaga posisi non-blok di era baru
Dalam tradisi intelijen, ini disebut strategic infiltration by diplomacy hadir bukan untuk tunduk, tetapi untuk mengawasi.
Namun ini hanya berhasil jika:
- Elite nasional sadar permainan
- Tidak terjebak euforia pengakuan global
- Tidak menjadikan simbol sebagai substansi
Penutup: Perdamaian sebagai Medan Operasi
Board of Peace, jika dilihat sekilas, adalah forum idealis. Namun jika dibaca dengan mata intelijen, ia lebih menyerupai operasi wacana geopolitik, sebuah upaya mengatur ulang panggung global ketika PBB mulai kehilangan kendali.
Donald Trump hanyalah wajah paling mencolok. Di belakangnya ada:
- Kepentingan strategis
- Kelelahan terhadap multilateralisme
- Keinginan mengendalikan narasi perdamaian
Dalam dunia politik internasional, tidak ada kursi penonton. Semua yang hadir sadar atau tidak, adalah bagian dari permainan.
Dan dalam permainan ini, perdamaian bukan tujuan akhir. Ia hanyalah nama operasi.