Mengapa Tidak Semua Orang “Ikut Arus”?
Setiap hari kita melihat tren sosial berkembang dari fashion, musik, gaya hidup hingga cara berpikir dan berbicara. Tren ini seringkali terasa seperti “arus besar” yang mendorong sebagian besar orang untuk mengikuti atau setidaknya menyesuaikan diri agar tetap diterima dalam lingkungan sosial. Namun, ada segelintir orang yang justru tidak ikut arus; mereka tampak tenang meskipun tidak mengikuti tren, bahkan terkadang dengan sengaja memilih jalur mereka sendiri. Fenomena ini menarik secara psikologis dan membuka wawasan tentang kepribadian, norma sosial, serta hubungan antara individu dan masyarakat.
Studi-studi psikologi telah meneliti perilaku yang dikenal sebagai nonkonformitas kecenderungan untuk menolak mengikuti norma sosial atau tren populer. Menariknya, orang yang tidak mengikuti tren sering kali bukan sekadar “keras kepala” tanpa alasan. Mereka punya struktur psikologi dan motivasi yang unik yang lebih dalam daripada sekadar selera pribadi. Artikel ini akan membahasnya secara ilmiah dan mudah dipahami.
1. Apa Itu Konformitas dan Nonkonformitas?
Psikologi sosial membedakan dua pola perilaku yang saling berlawanan:
✦ Konformitas
Konformitas adalah kecenderungan seseorang menyesuaikan sikap, keyakinan, atau tindakan dengan kelompok atau norma sosial yang dominan. Ini terjadi karena tekanan sosial: kita ingin diterima, merasa aman, atau menghindari dikucilkan. Psikolog Solomon Asch menunjukkan dalam eksperimennya bahwa banyak orang sebenarnya sanggup mengikuti pendapat mayoritas meskipun tahu itu salah hanya untuk “nyaman” dalam kelompok.
✦ Nonkonformitas
Sebaliknya, nonkonformitas adalah sikap menolak mengikuti arus utama, norma dominan, atau tren sosial. Orang yang bersikap nonkonformis sering kali mempertahankan pendapat, perilaku, atau gaya hidupnya sendiri tanpa terpengaruh oleh apa yang mayoritas lakukan. Ini bukan sekadar membangkang tanpa tujuan, tetapi ada dasar psikologis yang kuat di baliknya.
2. Nonkonformitas: Bukan Kebetulan, Tapi Ciri Kepribadian
Salah satu penelitian ilmiah terbaru mengembangkan konsep Contrarianism Scale skala psikometrik untuk mengukur sejauh mana seseorang bersikap nonkonformis dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa nonkonformitas adalah sifat stabil yang berbeda dari sekadar reaksi sesaat terhadap tekanan sosial.
Peneliti menemukan bahwa orang dengan skor nonkonformitas tinggi cenderung:
- Mengambil sikap yang berbeda dari mayoritas dalam berbagai situasi sosial.
- Memiliki pandangan, keyakinan, atau keputusan yang sering tidak sejalan dengan tren.
- Tidak mudah terpengaruh oleh pendapat mayoritas meskipun sadar akan apa yang mayoritas pikirkan atau lakukan.
Hal ini berarti nonkonformitas bukan akibat kebodohan atau ketidakpedulian terhadap norma sosial—melainkan kecenderungan psikologis yang konsisten.
3. Habit (Kebiasaan) dan Ketahanan terhadap Pengaruh Sosial
Penelitian lain yang relevan membahas bagaimana kebiasaan kuat dapat membuat seseorang resisten terhadap pengaruh sosial. Asaf Mazar dan rekan-rekannya menemukan bahwa individu dengan kebiasaan yang kuat tidak mudah menyesuaikan perilakunya dengan norma sosial bahkan ketika mereka menyadari perilaku mayoritas.
Ini menjadi salah satu mekanisme psikologis penting di balik nonkonformitas: bukan sekadar memilih berbeda, tetapi karena perilaku mereka sudah “tertanam” begitu kuat sehingga tidak tergoyahkan oleh perubahan sosial.
4. Nonkonformitas dan Identitas Diri
Sebuah konsep klasik dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa individu yang tidak mengikuti arus tren sering kali lebih kuat dalam identitas diri. Mereka tahu siapa mereka, apa yang mereka inginkan, dan tidak mudah goyah karena tekanan dari sekitar.
Selain itu ada konsep yang disebut idiosyncrasy credit, yang menjelaskan mengapa beberapa orang, khususnya yang sudah membuktikan diri sebagai anggota kelompok yang kompeten, lebih bebas menyuarakan pendapat yang berbeda karena mereka memiliki “kredit sosial”.
Ini berarti: jika seseorang dihormati atau dianggap ahli dalam kelompok tertentu, mereka punya ruang lebih besar untuk menjadi berbeda tanpa kehilangan tempatnya dalam komunitas.
5. Nonkonformitas dan Kesejahteraan Psikologis
Nonkonformitas tidak selalu negatif, bahkan bisa berkaitan dengan hal positif seperti self-efficacy (percaya pada kemampuan diri sendiri) dan kesejahteraan emosional. Penelitian pada guru di Belanda menunjukkan bahwa nonkonformitas berhubungan dengan peningkatan self-efficacy dan kesejahteraan emosional yang lebih tinggi, serta risiko burnout yang lebih rendah.
Dengan kata lain, menjadi diri sendiri—meskipun berarti berbeda dari tren—bisa membawa keuntungan psikologis tersendiri.
6. Nonkonformitas vs. Integrasi Sosial: Tantangan Psikologisnya
Namun, nonkonformitas juga menimbulkan tantangan terutama terkait hubungan sosial. Dalam penelitian psikologi perkembangan, anak-anak cenderung mengevaluasi nonkonformis lebih negatif ketika mereka dianggap tidak peduli pada kelompoknya.
Ini menunjukkan bahwa meskipun nonkonformitas bisa menjadi kekuatan individu, itu juga bisa membuat seseorang:
- Terlihat “berbeda” atau kurang sesuai dengan norma kelompok.
- Dianggap kurang loyal atau tidak peduli pada nilai kelompok.
- Menghadapi konflik sosial yang lebih tinggi seperti penolakan atau kurangnya dukungan sosial.
Jadi nonkonformitas bukan satu hal yang selalu mudah, tetapi menjadi bagian dari perjalanan kehidupan seseorang.
7. Bagaimana Nonkonformitas Terkait Tren Sosial?
Di era digital, tren sosial lebih dinamis daripada sebelumnya. Media sosial, misalnya, menciptakan tekanan kuat agar semua orang “ikut tren” baik itu dalam gaya hidup, sikap politik, atau preferensi budaya populer.
Namun individu yang nonkonformis secara psikologis cenderung:
Itu berarti tren sosial besar seperti gaya pakaian, meme internet, atau tren viral lainnya bukanlah “kekuatan mutlak” ada bagian penting dari populasi manusia yang tidak hanya melihat tren, tetapi menilai dan memilih apa yang sesuai dengan dirinya.
8. Mengapa Ini Penting untuk Dipahami?
Fenomena orang yang tidak ikut tren bukan sekadar “unik” atau “aneh” itu adalah bagian integral dari dinamika sosial dan psikologis. Memahami nonkonformitas membantu kita:
Kesimpulan
Orang yang tidak ikut tren tidak semata-mata keras kepala atau tidak peka terhadap norma sosial. Mereka sering kali:
Dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks, nonkonformitas bukan sekadar fenomena sosial, tetapi juga cermin keunikan psikologis manusia. Jadi, ketika seseorang memilih untuk tidak ikut tren, mereka mungkin sebenarnya sedang memilih jalan yang lebih cocok untuk dirinya, bukan sekadar berlawanan demi berlawanan.
Daftar Pustaka (Referensi Jurnal/Ilmiah)
Berikut beberapa penelitian ilmiah yang menjadi dasar tulisan ini:
- Mazar, A., Itzchakov, G., Lieberman, A., & Wood, W. (2023). The Unintentional Nonconformist: Habits Promote Resistance to Social Influence. Personality and Social Psychology Bulletin.
- Konseptualisasi dan pengukuran nonkonformitas: Contrarianism Scale—Penelitian validasi trait nonkonformis (2025).
- Nonkonformitas dan kesejahteraan: Non-conformism as precursor for self-efficacy and well-being (Nature 2020).
- Evaluasi nonkonformitas dalam perkembangan sosial anak (Cognition, 2023).
- Eksperimen konformitas klasik oleh Solomon Asch.