Sindrom Ovarium Polikistik atau Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu gangguan endokrin paling umum yang dialami perempuan usia reproduktif. Prevalensi PCOS diperkirakan berkisar antara 6–20%, tergantung pada kriteria diagnostik yang digunakan dan karakteristik populasi (Teede et al., 2018). Meskipun sering dikaitkan dengan gangguan kesuburan, PCOS sejatinya adalah kondisi sistemik yang berdampak luas, mencakup metabolisme, kesehatan kardiovaskular, hingga kesehatan mental.
Istilah “polikistik” kerap menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah PCOS semata-mata adalah penyakit kista ovarium. Padahal, secara ilmiah, PCOS merupakan sindrom kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor hormonal, metabolik, genetik, dan lingkungan. Artikel ini bertujuan untuk mengulas PCOS secara komprehensif berdasarkan literatur ilmiah, dengan pendekatan humanis agar mudah dipahami tanpa mengurangi akurasi akademik.
Definisi dan Konsep Dasar PCOS
PCOS adalah gangguan endokrin yang ditandai oleh disfungsi ovulasi, hiperandrogenisme, dan/atau morfologi ovarium polikistik. PCOS bukan penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala yang bervariasi antarindividu.
Menurut kriteria Rotterdam (2003), diagnosis PCOS ditegakkan jika terdapat minimal dua dari tiga kriteria berikut:
- Oligo-ovulasi atau anovulasi
- Tanda klinis atau biokimia hiperandrogenisme
- Gambaran ovarium polikistik pada ultrasonografi
Kriteria ini hingga kini masih menjadi standar internasional dan didukung oleh berbagai organisasi kesehatan reproduksi dunia.
Patofisiologi PCOS: Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh?
1. Ketidakseimbangan Hormonal
Inti dari PCOS adalah gangguan regulasi hormon reproduksi. Pada penderita PCOS, terjadi peningkatan hormon androgen seperti testosteron. Kelebihan androgen ini menghambat pematangan folikel ovarium sehingga ovulasi tidak terjadi secara optimal.
Selain itu, rasio Luteinizing Hormone (LH) terhadap Follicle Stimulating Hormone (FSH) sering meningkat. LH yang berlebihan merangsang produksi androgen di ovarium, memperparah kondisi hiperandrogenisme.
2. Resistensi Insulin
Sekitar 50–70% perempuan dengan PCOS mengalami resistensi insulin, bahkan pada mereka yang tidak obesitas (Dunaif, 1997). Resistensi insulin menyebabkan pankreas memproduksi insulin dalam jumlah lebih besar (hiperinsulinemia), yang kemudian:
- Merangsang ovarium memproduksi androgen
- Menurunkan kadar Sex Hormone Binding Globulin (SHBG)
- Meningkatkan androgen bebas dalam darah
Kondisi ini menjelaskan mengapa PCOS sangat berkaitan dengan diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik.
3. Faktor Genetik dan Epigenetik
PCOS memiliki komponen genetik yang kuat. Studi menunjukkan bahwa perempuan dengan riwayat keluarga PCOS memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, genetik bukan satu-satunya faktor; gaya hidup dan lingkungan berperan sebagai pemicu epigenetik yang memperberat manifestasi PCOS.
Manifestasi Klinis PCOS
1. Gangguan Menstruasi
Gangguan haid merupakan keluhan paling umum, berupa:
- Haid jarang (oligomenore)
- Tidak haid sama sekali (amenore)
- Siklus haid tidak teratur
2. Gejala Hiperandrogenisme
Kelebihan hormon androgen menimbulkan gejala seperti:
- Hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih)
- Jerawat persisten
- Alopecia androgenik (kerontokan rambut pola pria)
3. Masalah Reproduksi
PCOS adalah penyebab utama infertilitas anovulatorik. Ketidakteraturan ovulasi membuat peluang kehamilan alami menurun, meskipun tidak berarti mustahil untuk hamil.
4. Dampak Psikologis
Berbagai penelitian menunjukkan peningkatan risiko:
- Depresi
- Kecemasan
- Gangguan citra tubuh
Aspek ini sering terabaikan, padahal berpengaruh besar terhadap kualitas hidup penderita PCOS.
Diagnosis PCOS
Diagnosis PCOS bersifat diagnosis eksklusi, artinya dokter harus menyingkirkan kondisi lain seperti gangguan tiroid, hiperprolaktinemia, atau tumor penghasil androgen.
Pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:
- Anamnesis dan pemeriksaan fisik
- Pemeriksaan hormon (LH, FSH, testosteron)
- USG transvaginal
- Pemeriksaan metabolik (gula darah, profil lipid)
Pendekatan multidisiplin sangat dianjurkan karena PCOS tidak hanya berdampak pada sistem reproduksi.
Penatalaksanaan PCOS
1. Modifikasi Gaya Hidup
Intervensi lini pertama pada PCOS adalah perubahan gaya hidup, terutama pada pasien dengan kelebihan berat badan. Penurunan berat badan 5–10% terbukti memperbaiki ovulasi dan sensitivitas insulin.
2. Terapi Farmakologis
Pilihan terapi disesuaikan dengan tujuan pasien:
- Kontrasepsi oral kombinasi untuk mengatur siklus haid
- Metformin untuk memperbaiki resistensi insulin
- Obat induksi ovulasi (seperti letrozole) bagi yang ingin hamil
3. Pendekatan Jangka Panjang
PCOS memerlukan manajemen jangka panjang untuk mencegah komplikasi metabolik dan kardiovaskular.
Dampak Jangka Panjang dan Prognosis
Tanpa penanganan yang tepat, PCOS meningkatkan risiko:
- Diabetes mellitus tipe 2
- Penyakit jantung
- Kanker endometrium
- Sindrom metabolik
Namun, dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan, sebagian besar perempuan dengan PCOS dapat menjalani hidup sehat dan produktif.
Kesimpulan
PCOS bukan sekadar gangguan ovarium, melainkan kondisi sistemik kompleks yang memengaruhi berbagai aspek kesehatan perempuan. Pemahaman yang komprehensif, berbasis ilmiah, dan disertai pendekatan humanis sangat penting agar PCOS tidak hanya dilihat sebagai masalah kesuburan, tetapi sebagai kondisi kesehatan jangka panjang yang memerlukan perhatian serius.
Kesadaran dini, diagnosis tepat, dan penatalaksanaan holistik merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dengan PCOS.
Daftar Pustaka
- Teede, H. J., et al. (2018). Recommendations from the international evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome. Human Reproduction, 33(9), 1602–1618.
- Rotterdam ESHRE/ASRM-Sponsored PCOS Consensus Workshop Group. (2004). Revised 2003 consensus on diagnostic criteria and long-term health risks related to PCOS. Human Reproduction, 19(1), 41–47.
- Dunaif, A. (1997). Insulin resistance and the polycystic ovary syndrome: mechanism and implications for pathogenesis. Endocrine Reviews, 18(6), 774–800.
- Azziz, R., et al. (2016). Polycystic ovary syndrome. Nature Reviews Disease Primers, 2, 16057.
- Legro, R. S., et al. (2013). Diagnosis and treatment of polycystic ovary syndrome: An Endocrine Society clinical practice guideline. Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 98(12), 4565–4592.