📢 Selamat datang di e-GalihOS! Temukan artikel menarik seputar teknologi, alkisah dan tips blog kreatif lainnya 🌐📱 📢

AKU DATANG UNTUK BEKERJA, SISANYA BUKAN URUSANKU

Ada sebuah tempat yang setiap pagi dipenuhi manusia dengan pakaian rapi, wajah serius, kopi di tangan, dan komputer yang menyala sebelum mata benar-benar terbuka. Dari luar, tempat itu disebut kantor. Tempat orang bekerja, menerima gaji, menyelesaikan tugas, mengikuti aturan, kemudian pulang. Tetapi jika seseorang cukup lama memperhatikan kehidupan di dalamnya, ia akan menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada pekerjaan itu sendiri. Di antara meja, ruangan, rapat, grup percakapan, dan senyum formal, terdapat sebuah dunia kecil tempat manusia memainkan permainan yang sebenarnya tidak pernah tertulis dalam kontrak kerja. Mereka membangun kelompok, mencari pengikut, menentukan siapa yang harus disukai, siapa yang harus dijauhi, siapa yang dianggap penting, siapa yang pantas dicurigai, dan siapa yang diam-diam sedang dibicarakan. Tidak ada papan skor, tetapi semua orang menghitung. Tidak ada wasit, tetapi semua orang merasa berhak menjadi hakim. Tidak ada peperangan, tetapi setiap orang tahu bahwa satu kalimat yang salah dapat menjadi peluru yang ditembakkan dari belakang.

Lucunya, manusia datang ke kantor dengan tujuan bekerja, tetapi sebagian justru menghabiskan lebih banyak tenaga untuk mengurusi kehidupan orang lain. Mereka ingin mengetahui siapa yang membenci siapa, siapa yang sedang bertengkar, siapa yang dekat dengan pimpinan, siapa yang sedang naik, siapa yang sedang jatuh, siapa yang tidak diajak dalam sebuah percakapan, dan siapa yang diam-diam sedang kehilangan pengaruh. Pekerjaan menjadi alasan formal untuk hadir, sementara drama sosial menjadi pekerjaan tidak resmi yang dilakukan dengan penuh kesungguhan. Mereka menyebutnya solidaritas ketika sedang berkumpul dengan kelompoknya. Mereka menyebutnya kepedulian ketika sedang membicarakan keburukan orang lain. Mereka menyebutnya informasi ketika sedang menyebarkan cerita yang belum tentu benar. Begitulah manusia. Mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk memberikan nama yang terdengar terhormat kepada sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana: ego.

Ada manusia yang tidak bisa hidup tanpa kelompok. Ia membutuhkan seseorang untuk dibela agar dirinya merasa kuat dan membutuhkan seseorang untuk disalahkan agar dirinya merasa benar. Ia membutuhkan musuh agar kelompoknya terasa semakin penting. Karena itu, ketika tidak menemukan musuh, mereka akan mencari. Jika tidak menemukan alasan untuk membenci, mereka akan membuat alasan. Sebab bagi sebagian manusia, kehidupan terasa terlalu sepi jika tidak ada seseorang yang sedang mereka lawan. Mereka tidak sadar bahwa perang yang mereka bangun sering kali hanya terjadi di dalam kepala mereka sendiri. Orang yang mereka anggap sebagai lawan mungkin sedang sibuk mengurus keluarganya, membayar tagihan, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar memikirkan makan siang. Sementara mereka menghabiskan waktu berjam-jam membangun narasi tentang seseorang yang bahkan mungkin tidak pernah memikirkan mereka.

Di situlah absurditas manusia menjadi semakin jelas. Kita sering merasa bahwa semua orang memperhatikan kita, padahal sebagian besar orang terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Kita takut dibicarakan, padahal orang yang membicarakan kita mungkin lima menit kemudian sudah melupakan apa yang dikatakannya. Kita takut dicap buruk, padahal label manusia selalu berubah mengikuti kepentingan. Hari ini seseorang disebut baik karena membantu. Besok orang yang sama disebut buruk karena menolak. Hari ini ia dianggap rendah hati karena diam. Besok ia disebut sombong karena tidak ikut berbicara. Hari ini ia dipuji karena tegas. Besok ia dicaci karena dianggap keras. Begitulah penilaian manusia bekerja. Ia tidak selalu mencari kebenaran. Sering kali ia hanya mencari sesuatu yang cocok dengan perasaan dan kepentingannya sendiri.

Karena itu, ada kebebasan tertentu ketika seseorang berhenti berusaha menjadi manusia yang disukai semua orang. Ia mulai menyadari bahwa tidak ada satu pun karakter yang mampu memuaskan seluruh manusia. Bahkan orang yang paling baik pun akan dibenci oleh seseorang. Orang yang paling ramah akan dianggap menyebalkan oleh orang lain. Orang yang paling jujur akan dianggap kasar oleh mereka yang tidak menyukai kejujurannya. Orang yang diam akan disebut sombong, sementara orang yang banyak bicara akan disebut mencari perhatian. Pada akhirnya, seseorang akan sadar bahwa jika ia menjadikan penilaian manusia sebagai kompas hidupnya, ia akan berjalan tanpa pernah sampai ke mana pun. Sebab arah kompas itu berubah setiap kali mulut orang lain berubah.

Aku datang ke tempat kerja bukan untuk mencari musuh. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengandung penolakan terhadap sebuah permainan sosial yang sangat melelahkan. Aku tidak datang untuk mengetahui siapa yang membenciku. Aku tidak datang untuk menghitung siapa yang tidak menyapaku. Aku tidak datang untuk mengumpulkan bukti bahwa seseorang sedang membicarakanku. Aku tidak datang untuk membangun kubu lalu memastikan siapa yang berdiri di belakangku ketika seseorang menyerang. Aku datang untuk bekerja. Aku datang karena ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan yang harus dibuat. Ada masalah yang harus diselesaikan. Ada kewajiban yang harus dipenuhi. Setelah itu, aku ingin pulang sebagai manusia biasa yang masih memiliki kehidupan di luar gedung ini.

Bukan berarti aku tidak peduli terhadap manusia. Justru karena aku menghargai manusia, aku tidak ingin menjadikan mereka bahan permainan. Jika seseorang membutuhkan bantuan dan aku mampu membantu, aku akan membantu. Jika seseorang melakukan kesalahan yang berdampak pada pekerjaan, aku akan membicarakannya secara profesional. Jika aku melakukan kesalahan, aku akan mengakuinya. Tetapi aku tidak merasa perlu mengetahui seluruh konflik pribadi seseorang. Aku tidak perlu menjadi bagian dari setiap percakapan. Aku tidak harus mempunyai pendapat tentang semua orang. Aku tidak harus mengetahui siapa yang sedang berselisih dengan siapa. Hidup sudah cukup rumit tanpa harus menambahkan pekerjaan tambahan berupa mengurusi kebencian manusia lain.

Namun sikap seperti itu sering kali dianggap aneh. Orang yang tidak ikut bergosip dianggap tidak solid. Orang yang tidak memilih kelompok dianggap tidak punya pergaulan. Orang yang tidak ikut menyerang seseorang dianggap sedang membela orang tersebut. Betapa anehnya dunia manusia. Tidak ikut memukul dianggap sebagai tindakan membela korban. Tidak ikut menghina dianggap sebagai keberpihakan. Tidak ikut dalam kerumunan dianggap sebagai ancaman. Seolah-olah seseorang tidak boleh sekadar berdiri sendiri. Seolah-olah setiap manusia wajib memilih sisi bahkan ketika tidak ada perang yang ingin ia ikuti.

Mungkin karena itu banyak orang akhirnya hidup bukan berdasarkan prinsip, melainkan berdasarkan posisi. Mereka bertanya, “Kamu di pihak siapa?” sebelum bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Mereka menentukan benar dan salah berdasarkan siapa yang berbicara. Jika orang yang mereka sukai melakukan kesalahan, mereka mencari alasan. Jika orang yang mereka benci melakukan hal yang sama, mereka mencari hukuman. Moralitas menjadi fleksibel ketika kepentingan pribadi mulai berbicara. Kebenaran menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan selama kelompok sendiri yang memperoleh keuntungan.

Dan di tengah semua itu, aku justru memilih untuk tidak terlalu sibuk terlihat baik. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku orang baik. Kalimat ini mungkin terdengar kasar bagi mereka yang terbiasa membangun citra moral, tetapi bagiku ada kejujuran tertentu di dalamnya. Aku tahu aku manusia. Aku punya ego. Aku pernah salah. Aku pernah marah. Aku pernah kecewa. Aku pernah menilai orang terlalu cepat. Aku pernah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan. Aku memiliki sisi yang tidak selalu pantas dipamerkan. Karena itu aku tidak membutuhkan panggung untuk menyatakan bahwa aku lebih baik daripada orang lain. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang kulakukan.

Ada manusia yang begitu sibuk membuktikan dirinya baik sampai akhirnya lupa bahwa kebaikan yang membutuhkan penonton terkadang hanyalah pertunjukan. Ia membantu lalu menunggu ucapan terima kasih. Ia berbuat baik lalu menyimpan catatan hutang moral. Ia tersenyum lalu berharap senyum itu dibalas. Ketika tidak mendapatkan balasan, ia marah dan berkata, “Setelah semua yang sudah saya lakukan.” Pada saat itulah kebaikan berubah menjadi transaksi. Ia bukan lagi pemberian, melainkan investasi yang menunggu keuntungan. Manusia sering menyebut dirinya tulus sampai seseorang menolak membalas ketulusannya. Saat itulah kita mengetahui apakah sesuatu benar-benar diberikan atau sebenarnya hanya dipinjamkan.

Aku tidak ingin hidup seperti itu. Jika aku membantu, aku membantu karena pada saat itu aku memilih untuk membantu. Jika suatu hari orang yang pernah kubantu tidak lagi membantuku, aku tidak akan membongkar arsip kebaikanku sendiri untuk menagih pembayaran. Sebab jika kebaikan selalu membutuhkan balasan, maka ia tidak jauh berbeda dengan perdagangan. Dan jika aku harus menjadi orang baik hanya agar orang lain menganggapku baik, maka aku sebenarnya tidak sedang menjadi baik. Aku hanya sedang menjaga reputasi.

Karena itu, tidak masalah jika aku dicap buruk. Bukan berarti aku ingin menjadi buruk. Bukan berarti kritik tidak perlu didengar. Jika seseorang menunjukkan kesalahanku dengan alasan yang masuk akal, aku akan mendengarnya. Tetapi ada perbedaan antara kritik dan penghakiman. Kritik memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Penghakiman sering kali hanya memberikan label. Dan aku tidak memiliki kewajiban untuk berkeliling dari satu meja ke meja lain hanya untuk menghapus label yang ditempelkan manusia kepadaku. Jika seseorang menganggapku buruk, mungkin itu pendapatnya. Ia berhak memiliki pendapat. Tetapi aku juga berhak untuk tidak menjadikan pendapatnya sebagai identitas hidupku.

Sebab pada akhirnya, orang lain hanya mengenal sebagian kecil dari diriku. Mereka melihat bagaimana aku berbicara di kantor, tetapi tidak melihat bagaimana aku menjalani kehidupan ketika pintu rumah tertutup. Mereka melihat satu keputusan, tetapi tidak melihat seluruh pertimbangan yang mendahuluinya. Mereka melihat satu kesalahan, kemudian mungkin menjadikannya kesimpulan tentang seluruh karakter. Begitulah manusia bekerja. Kita sering menghakimi sebuah buku hanya dari satu halaman yang kebetulan terbuka di depan mata.

Maka biarkan mereka membaca satu halaman itu. Biarkan mereka membuat kesimpulan. Biarkan mereka memberi nama. Aku tidak punya waktu untuk mengoreksi seluruh imajinasi manusia tentang diriku. Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada menjelaskan diri kepada orang yang sudah memilih untuk salah memahami. Aku tidak harus menang dalam setiap percakapan. Aku tidak harus menjadi pemenang dalam setiap konflik. Bahkan aku tidak harus membuktikan bahwa aku benar. Kadang-kadang kemenangan terbesar adalah tidak ikut bertanding dalam pertandingan yang sejak awal tidak pernah kita inginkan.

Kantor hanyalah sebuah tempat. Ia bukan dunia. Ketika jam kerja berakhir, lampu dimatikan dan pintu ditutup, sebagian besar konflik yang tadi terasa sangat penting akan ikut kehilangan kekuatannya. Orang-orang pulang ke rumah membawa kehidupan masing-masing. Ada keluarga yang menunggu. Ada anak yang ingin bermain. Ada pasangan yang ingin berbicara. Ada rumah yang harus diurus. Ada tubuh yang membutuhkan istirahat. Tetapi manusia sering kali membawa kantor itu ke dalam kepalanya. Ia pulang secara fisik, tetapi pikirannya masih berada di meja kerja, memikirkan siapa yang tadi memandangnya, siapa yang tidak menjawab pesannya, siapa yang berbicara di belakangnya, dan mengapa seseorang terlihat lebih dekat dengan pimpinan. Ia membawa pulang sesuatu yang bahkan tidak dibayar sebagai lembur.

Aku memilih tidak membawa semuanya pulang.

Jika seseorang membenciku, biarkan itu menjadi urusannya. Jika seseorang menyukaiku, aku berterima kasih tetapi tidak akan bergantung kepadanya. Jika seseorang ingin menjadi temanku, aku akan menghargainya. Jika seseorang ingin menjauh, aku tidak akan mengejarnya. Jika seseorang ingin membangun kubu, silakan. Tetapi jangan berharap aku menjadi prajurit dalam perang yang tidak pernah kuminta. Aku tidak datang untuk menjadi bagian dari kerajaan kecil yang dibangun dari ego manusia. Aku datang untuk bekerja.

Mungkin sikap ini membuatku terlihat dingin. Mungkin terlihat tidak ramah. Mungkin bahkan terlihat sombong. Tidak masalah. Aku sudah terlalu lama melihat manusia menggunakan keramahan sebagai topeng dan kebaikan sebagai alat tawar-menawar. Aku lebih memilih hubungan yang sederhana daripada persahabatan yang dibangun atas kepentingan. Aku lebih memilih diam daripada berbicara hanya agar dianggap ada. Aku lebih memilih bekerja daripada sibuk mencari tahu siapa yang sedang menjatuhkan siapa. Dan aku lebih memilih menjadi manusia yang sadar akan kekurangannya daripada manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya meyakinkan orang lain bahwa dirinya sempurna.

Pada akhirnya, mungkin yang paling menakutkan bukanlah ketika orang lain membencimu. Yang lebih menakutkan adalah ketika kamu mulai mengubah dirimu hanya agar mereka berhenti membencimu. Kamu mengubah cara bicaramu, mengubah prinsipmu, mengubah batasmu, mengubah sikapmu, bahkan mengubah siapa dirimu, hanya demi mendapatkan tempat di hati orang-orang yang mungkin besok juga akan menemukan alasan baru untuk tidak menyukaimu. Untuk apa? Bukankah lebih baik kehilangan penerimaan manusia daripada kehilangan diri sendiri?

Aku tidak ingin hidup sebagai manusia yang terus-menerus meminta izin kepada dunia untuk menjadi dirinya sendiri. Aku tidak ingin setiap keputusan harus melewati pengadilan opini. Aku tidak ingin hidup dengan ketakutan bahwa setiap langkah akan dibicarakan. Aku tidak ingin menjadi budak dari kebutuhan untuk disukai. Jika hidup memang harus memiliki beban, biarlah beban itu berasal dari tanggung jawabku sendiri, bukan dari pendapat orang lain.

Maka jika suatu hari seseorang bertanya, “Mengapa kamu tidak ikut dalam kelompok kami?” jawabannya sederhana: karena aku tidak membutuhkan kelompok untuk mengetahui siapa diriku. Jika mereka bertanya, “Mengapa kamu tidak membenci orang yang membencimu?” jawabannya sederhana: karena aku tidak ingin memelihara sesuatu yang bahkan bukan milikku. Jika mereka bertanya, “Mengapa kamu tidak peduli ketika orang lain menganggapmu buruk?” jawabannya juga sederhana: karena aku lebih tertarik memperbaiki diriku daripada mengendalikan mulut orang lain.

Aku tidak datang ke tempat kerja untuk mencari musuh, membangun kubu, atau mengetahui siapa membenci siapa. Aku datang untuk bekerja. Aku datang untuk menyelesaikan tanggung jawabku. Aku datang untuk melakukan apa yang harus kulakukan tanpa harus menjadi pemain dalam permainan ego yang tidak pernah kuminta. Jika setelah itu seseorang ingin memberiku label buruk, silakan. Jika seseorang ingin menyebutku sombong, silakan. Jika seseorang ingin mengatakan aku tidak peduli, silakan. Aku tidak akan mengejar mereka untuk mengubah pikirannya. Sebab hidupku terlalu berharga untuk kuhabiskan menjadi petugas pemadam kebakaran bagi api yang sengaja dinyalakan orang lain.

Dan jika pada akhirnya aku tetap dicap buruk, biarlah. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku orang baik. Aku hanya manusia yang sedang berusaha bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Aku tahu aku tidak sempurna. Aku tahu aku bisa salah. Aku tahu aku memiliki sisi gelap yang tidak selalu ingin kulihat. Tetapi setidaknya aku tidak ingin menjadikan kemunafikan sebagai cara hidup hanya demi terlihat suci di mata manusia.

Karena pada akhirnya, semua orang akan pulang. Semua meja akan kosong. Semua jabatan akan berganti. Semua kelompok akan berubah. Orang yang hari ini dipuja mungkin besok dilupakan. Orang yang hari ini dibenci mungkin besok bahkan tidak lagi diingat. Drama yang hari ini terasa seperti akhir dunia suatu hari akan menjadi cerita yang tidak lagi penting. Yang tersisa hanyalah apa yang kita lakukan ketika tidak ada yang melihat, bagaimana kita memperlakukan orang ketika kita memiliki kesempatan untuk menyakiti, bagaimana kita menggunakan kekuasaan ketika memilikinya, bagaimana kita bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, dan bagaimana kita tetap berdiri ketika seluruh tepuk tangan berhenti.

Jadi biarkan mereka bermain. Biarkan mereka membangun kubu. Biarkan mereka mencari musuh. Biarkan mereka saling menilai dan saling menghakimi. Aku memilih jalan lain. Bukan karena aku lebih baik daripada mereka, tetapi karena aku tidak ingin hidupku ditentukan oleh permainan mereka.

Aku datang untuk bekerja.

Aku menyelesaikan pekerjaanku.

Aku menjaga tanggung jawabku.

Kemudian aku pulang.

Sisanya bukan urusanku.

GALIHOS

Saya seorang blogger dan vlogger. Hidup saya adalah kumpulan cerita, yang terekam dalam piksel dan kata. Saya berkembang di bawah tekanan dengan menjunjung tinggi profesionalitas, merangkul seni, cita rasa, dan jalan yang tak berujung. Alam adalah tempat istirahat saya. Namun, hanya sedikit yang tahu obsesi saya dengan disiplin ilmu spionase, peretasan dan kejahatan digital. Saya mempelajari infiltrasi, enkripsi dan cara melacak jejak digital. Hanya sekadar pembelajaran atau begitulah yang saya kira. Setiap petualangan, setiap rahasia, saya dokumentasikan. Media sosial saya menyimpan masa lalu saya, kebenaran yang mutlak. Satu hal yang pasti, saya akan menjaga konfidensial saya, karena selalu ada penipu yang menyamar sebagai pendengar dan selalu ada pendengar yang mengintai dalam kegelapan.

Lebih baru Lebih lama