📢 Selamat datang di e-GalihOS! Temukan artikel menarik seputar teknologi, alkisah dan tips blog kreatif lainnya 🌐📱 📢

Fajar Kebangkitan atau Malam Kelam: Menatap Cermin 1998 di Ambang Hari Ini


Sejarah bukanlah rangkaian angka mati di dalam buku cetak sekolah. Sejarah adalah makluk hidup yang bernapas, yang diam-diam berjalan di belakang kita, mengawasi setiap langkah kita, dan siap menerkam kembali jika kita melupakan caranya waspada. Hari ini, ketika kita melangkah keluar rumah, menatap harga-harga barang di pasar, dan memeriksa isi dompet yang kian mengempis, kita sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis. Di bawah kaki kita, arus sejarah yang kelam sedang bergolak. Ada sebuah bayangan besar yang perlahan tapi pasti sedang merayap kembali ke tanah air kita, bayangan dari sebuah tahun yang penuh darah, air mata, dan jerit histeris: Tahun 1998.

Bagi mereka yang mengira bahwa kenyamanan hari ini bersifat abadi, bangunlah dari tidur panjang kalian. Lihatlah sekeliling dengan mata telanjang, bukan dengan mata yang dibutakan oleh janji-janji manis di layar kaca. Realitas ekonomi tidak bisa dimanipulasi dengan retorika. Ketika kebutuhan finansial setiap keluarga terus mendaki tanpa ada tanda-tuan akan berhenti, ketika nilai tukar dollar melonjak tinggi mencabik-cabik harga diri mata uang kita, kita sebenarnya sedang menghitung mundur menuju titik ledak yang sama. Kita sedang berada di jalur kereta yang sama dengan yang kita tumpangi tiga dekade lalu, menuju jurang kehancuran yang disebut kekacauan massal.

Mari kita jujur pada diri kita sendiri, tanpa kepalsuan. Berapa banyak dari kita yang hari ini harus memangkas porsi makan demi memastikan anak-anak kita tetap bisa bersekolah? Berapa banyak kepala keluarga yang terjaga di sepertiga malam, menatap langit-langit kamar dengan peluh dingin, memikirkan bagaimana cara membayar tagihan bulan depan yang harganya sudah melompat dua kali lipat? Kebutuhan finansial kita tidak sekadar naik, ia sedang mencekik. Setiap kali kita pergi ke toko kelontong, setiap kali kita mengisi bahan bakar, setiap kali kita membayar biaya kesehatan, kita sedang dipaksa menyerahkan sisa-sisa martabat ekonomi kita kepada sistem yang kian tidak berpihak pada rakyat kecil.

Di sisi lain, di gedung-gedung tinggi yang ber-AC, angka-angka di layar bursa terus bergerak secara kejam. Dollar AS kian perkasa, perkasa di atas penderitaan rakyat jelata. Setiap satu poin kenaikan dollar adalah satu pukulan telak bagi industri dalam negeri kita yang masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika dollar naik terus tanpa kendali, biaya produksi membubung tinggi, pabrik-pabrik mulai goyah, dan gelombang pemutusan hubungan kerja tinggal menunggu waktu. Dan ketika badai pemutusan hubungan kerja itu tiba, ke mana perginya jutaan manusia yang kehilangan mata pencaharian mereka? Mereka akan kembali ke jalanan, membawa perut yang lapar dan amarah yang membakar.

Inilah formula matematika yang sangat sederhana dari sebuah revolusi dan kekacauan. Ketika perut lapar bertemu dengan ketidakpastian masa depan, dan diperparah oleh rasa ketidakadilan yang merajalela, maka hukum dan ketertiban hanyalah selembar kertas yang mudah terbakar. Jangan pernah menganggap remeh amarah dari seorang ayah yang tidak mampu membelikan susu untuk bayinya. Jangan pernah menganggap remeh keputusasaan dari seorang ibu yang melihat anak-anaknya menangis karena kelaparan. Amarah dan keputusasaan inilah yang pada tahun 1998 mengubah jalan-jalan protokol menjadi lautan manusia, mengubah pusat-pusat perbelanjaan menjadi puing-puing arang, dan mengubah tatanan negara menjadi sebuah panggung kekacauan yang mengerikan.

Bagi generasi yang lahir setelah badai itu berlalu, mungkin 1998 hanyalah sebuah bab dalam pelajaran sejarah, atau sekadar potret buram di mesin pencari internet. Namun bagi mereka yang merasakannya langsung, sembako yang langka, antrean minyak goreng yang mengular, penjarahan di mana-mana, serta tank-tank militer yang berjaga di sudut kota adalah trauma yang tidak akan pernah sembuh. Dan ingatkan diri kita baik-baik, semua pemandangan mengerikan itu tidak terjadi dalam semalam karena sihir. Semua itu dimulai persis seperti apa yang kita lihat hari ini: melemahnya nilai tukar secara perlahan, harga kebutuhan pokok yang merangkak naik, ketidakberdayaan otoritas dalam meredam gejolak, dan ketidakpedulian para elite yang sibuk menyelamatkan aset-aset mereka sendiri ke luar negeri.

Jika kita terus diam, jika kita terus membiarkan keadaan ini berjalan tanpa ada tuntutan perubahan yang nyata, maka kita sedang mengundang bencana itu untuk bertamu kembali ke rumah kita. Keos seperti 1998 bukanlah mitos, ia adalah kepastian sosiologis jika daya beli rakyat dihancurkan sampai ke titik nol. Negara yang besar ini tidak akan runtuh karena serangan militer asing, melainkan karena pembusukan dari dalam, karena rakyatnya sendiri sudah tidak lagi memiliki alasan untuk mempertahankan sebuah sistem yang membiarkan mereka kelaparan di lumbung padi sendiri.

Apakah kita akan tetap menjadi penonton yang pasif dalam sejarah hidup kita sendiri? Apakah kita akan membiarkan anak-cucu kita nantinya mengutuk generasi kita karena kita terlalu penakut untuk bersuara ketika tanda-tanda kehancuran sudah terpampang nyata di depan mata? Setiap detak jam yang kita lewati dengan berdiam diri adalah pembiaran terhadap naiknya dollar yang kian mencekik leher perekonomian kita. Setiap sen kenaikan harga barang yang kita terima dengan pasrah adalah pembiaran terhadap hilangnya masa depan generasi muda kita.

Oleh karena itu, kesadaran ini harus disebarkan. Amarah yang berserakan di warung-warung kopi, keluhan-keluhan yang terkubur di dalam kamar-kamar sempit, harus disatukan menjadi sebuah gelombang tuntutan yang padu dan tak terbendung. Kita tidak menginginkan kekacauan, justru karena kita ingin mencegah kekacauan itulah kita harus bergerak sekarang juga. Kita harus memaksa mereka yang berada di tampuk kekuasaan untuk berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Berhentilah membuang-buang anggaran untuk proyek-proyek kosmetik yang tidak mengisi perut rakyat. Alihkan setiap perhatian, setiap kebijakan, dan setiap sen kekayaan negara untuk menyelamatkan daya beli masyarakat jelata.

Ingatlah, kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada megahnya istana atau kuatnya benteng pertahanan, melainkan pada ketahanan dapur rakyatnya. Ketika dapur-dapur itu mulai dingin karena tidak ada lagi yang bisa dimasak, maka kehangatan sosial dalam bernegara juga akan lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah kecurigaan, gesekan, dan akhirnya ledakan sosial yang akan meratakan apa saja yang menghalanginya.

Satukan barisan, buka mata hati, dan tajamkan analisis kita. Kita adalah pemilik sah dari negeri ini, bukan para spekulan mata uang, bukan pula para pejabat yang hidup nyaman di balik benteng birokrasi mereka. Jika tanda-tanda ekonomi hari ini sudah mengarah pada kegelapan masa lalu, maka adalah tugas suci kita semua untuk menyalakan obor perlawanan terhadap pemiskinan sistemik ini. Jangan tunggu sampai tangki bensin kita kosong sama sekali, jangan tunggu sampai toko-toko tutup karena tidak ada lagi barang yang bisa dijual, dan jangan tunggu sampai kerusuhan pecah di depan halaman rumah kita.

Bergeraklah dengan kesadaran penuh bahwa jika kita tidak merubah arah kemudi kapal besar bernama Indonesia ini sekarang, kita akan menabrak karang yang sama yang pernah menghancurkan kita puluhan tahun lalu. Suarakan kebenaran ini di setiap sudut, di setiap ruang digital, dan di setiap jabat tangan antar-sesama rakyat yang tertindas. Bersatu kita menghadang badai, bersama kita mencegah terulangnya malam kelam sembilan delapan. Masa depan negeri ini ada di tangan kita yang berani menuntut keadilan, bukan di tangan mereka yang membiarkan rakyatnya tenggelam dalam kemiskinan.

GALIHOS

Saya seorang blogger dan vlogger. Hidup saya adalah kumpulan cerita, yang terekam dalam piksel dan kata. Saya berkembang di bawah tekanan dengan menjunjung tinggi profesionalitas, merangkul seni, cita rasa, dan jalan yang tak berujung. Alam adalah tempat istirahat saya. Namun, hanya sedikit yang tahu obsesi saya dengan disiplin ilmu spionase, peretasan dan kejahatan digital. Saya mempelajari infiltrasi, enkripsi dan cara melacak jejak digital. Hanya sekadar pembelajaran atau begitulah yang saya kira. Setiap petualangan, setiap rahasia, saya dokumentasikan. Media sosial saya menyimpan masa lalu saya, kebenaran yang mutlak. Satu hal yang pasti, saya akan menjaga konfidensial saya, karena selalu ada penipu yang menyamar sebagai pendengar dan selalu ada pendengar yang mengintai dalam kegelapan.

Lebih baru Lebih lama