“Kau bisa meretas sistem dunia, tapi takkan bisa meretas ketidakpercayaan bangsamu sendiri.”— Catatan harian (fiktif) Yohanes Nugroho
Sinyal Bahaya dari Negeri Sendiri
Bulan Mei 2024 menjadi babak kelam bagi infrastruktur digital Indonesia. Di tengah malam yang hening, puluhan server di Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 tiba-tiba membisu. Sistem mati. Akses publik terganggu. Ribuan data layanan digital terkunci dalam enkripsi tak dikenal. Peringatan merah menyala di ruang kendali siber nasional. Serangan ransomware besar telah terjadi.
Bagi sebagian orang, ini hanya headline media. Tapi bagi Yohanes Nugroho seorang programmer dan ahli reverse engineering asal Indonesia yang menetap di Thailand ini adalah panggilan darah. Ia mengenali jejak digital dua varian ransomware: LockBit dan Babuk. Keduanya dikenal kejam, brutal, dan ditengarai berasal dari kelompok kriminal siber bernama Brain Cipher.
Yohanes, yang pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun membongkar kode-kode mesin, melihat sebuah peluang: untuk membantu negerinya. Ia menawarkan bantuan. Gratis. Tanpa pamrih.
Namun respons dari pemerintah tidak seperti yang ia harapkan.
Dingin dan Mengiris – Penolakan yang Tak Terlupakan
Lewat email yang disusun penuh kehormatan, Yohanes mengirimkan permohonan resmi kepada Kominfo. Ia hanya meminta satu hal sederhana: salinan digital data terenkripsi. Bukan akses server, bukan sumber sensitif, hanya berkas contoh yang bisa dianalisis.
“Terima kasih atas niatnya, tetapi kami tidak membutuhkan bantuan Anda saat ini.”
Tidak ada follow-up. Tidak ada pertanyaan lanjut. Seolah keahliannya adalah angin lalu.
Yohanes menatap layar komputernya, terpaku. Rasa marah, sedih, dan kecewa bercampur. Ia bukan orang baru. Ia dikenal di komunitas siber internasional sebagai reverse engineer kelas dunia. Tapi di negerinya sendiri? Ia hanya dianggap “orang iseng”.
“Apakah keahlian itu harus datang dengan jas dan jabatan agar dianggap serius?” batinnya.
Balas Dendam Lewat Akira
Daripada meratapi penolakan, Yohanes memilih jalan sunyi. Saat dunia sibuk menebak pelaku serangan PDNS, ia menyibukkan diri dengan menantang sesuatu yang bahkan lebih menakutkan: ransomware Akira.
Akira adalah nama yang ditakuti dalam dunia kejahatan siber. Sejak 2023, ia telah melumpuhkan lebih dari 250 organisasi di berbagai negara. Korbannya membayar tebusan hingga miliaran demi mendapatkan kembali akses ke data mereka. Akira bukan sekadar kode jahat, ia adalah mimpi buruk yang berwujud algoritma.
Yohanes bekerja dalam diam. Di sudut kecil rumahnya di Chiang Mai, ia menyewa 16 GPU RTX 4090 di cloud satu kekuatan superkomputer pribadi. Dengan kombinasi ilmu matematika, kriptografi, dan kegigihan, ia menghabiskan waktu berminggu-minggu mencoba memecahkan algoritma enkripsi Akira.
Dan ia berhasil.
“Key found. Decryption success.”
Ia menang. Ia membuka kembali data yang dikunci oleh salah satu ransomware paling kejam dalam sejarah.
Namun kemenangan itu bukan untuk dirinya. Ia langsung membagikan kunci dan teknik dekripsinya secara terbuka di komunitas GitHub. Dunia internasional berterima kasih. Tapi dari Indonesia? Lagi-lagi, tak satu pun kata apresiasi datang.
Ironi dalam Diam
Yohanes tidak menjawab pertanyaan itu. Ia memilih terus berkarya, meninggalkan jejak yang lebih abadi dari pengakuan: ilmu.
Jejak Sang Penembus Mesin
Jika kamu mengunjungi blog yohan.es, kamu akan menemukan sebuah dunia lain. Dunia tempat Yohanes memaparkan secara terbuka tutorial reverse engineering berbagai arsitektur seperti ARM, x86, RISC-V, bahkan MIPS. Dunia di mana ia mengajari orang awam menjadi code breaker, tanpa memungut bayaran.
Ia tidak mengejar popularitas. Ia tidak mengemis penghargaan. Ia hanya ingin agar siapa pun, dari mana pun, memiliki alat untuk melawan ketidakadilan digital.
Dan ironisnya, justru negara-negara lain kini memanfaatkan penemuannya untuk melindungi sistem mereka. Negara lain. Bukan Indonesia.
Harapan dari Kegelapan
Dalam sebuah wawancara di forum komunitas, Yohanes pernah berkata:
“Saya tidak marah, saya hanya kecewa. Tapi saya tetap percaya bahwa satu hari nanti, kita akan memiliki generasi yang tahu cara menghargai ilmu dan niat baik.”
Itulah semangat yang menyelubungi perjuangannya. Bukan kebencian. Bukan dendam. Tapi harapan.
Harapan bahwa satu hari nanti, ketika negara ini kembali dilanda badai siber, para pengambil keputusan tidak lagi menilai dari jas, gelar, atau birokrasi. Tapi dari kompetensi, dedikasi, dan integritas.
Sang Penembus yang Tak Dicari
Yohanes Nugroho merupakan simbol paradoks Indonesia modern: kaya akan talenta, miskin dalam pengakuan, bak seperti slogan dalam dunia inteljen "berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari" Ia tidak membangun sistem yang memikat investor, tapi ia membongkar sistem yang bahkan menakutkan dunia. Ia bukan konsultan bersertifikat internasional, tapi ia membagikan teknologi penyelamat yang tidak ternilai.
Ketika negara menutup pintunya, Yohanes membuka pintu bagi dunia. Dan di sanalah ia menemukan makna perjuangannya: bukan untuk diakui, tapi untuk berguna.
