Mengenal Mandibular Torium: “Benjolan Misterius” di Dalam Mulut
Pernahkah Anda atau orang terdekat Anda menemukan benjolan keras seperti tulang di bagian dalam rahang bawah, dekat gigi geraham, dan merasa khawatir bahwa itu adalah sesuatu yang serius? Tenang dulu. Bisa jadi itu bukan kanker atau infeksi, tapi sesuatu yang disebut Mandibular Torium, atau secara medis dikenal sebagai Torus Mandibularis.
Artikel ini akan membahas secara lengkap dan komunikatif tentang apa itu mandibular torium, penyebabnya, gejala, apakah berbahaya, serta bagaimana penanganannya berdasarkan literatur ilmiah terbaru. Siapkan secangkir teh hangat dan mari kita pahami fenomena unik dalam anatomi mulut manusia ini.
Apa Itu Mandibular Torium?
Mandibular torium adalah tonjolan tulang padat (non-kanker) yang terbentuk di permukaan bagian dalam rahang bawah, biasanya di dekat gigi premolar atau molar. Tonjolan ini termasuk dalam kategori eksostosis, yaitu pertumbuhan tulang yang abnormal namun jinak.
Ciri khas dari torus mandibularis adalah:
- Terletak di sisi dalam rahang bawah, dekat lidah
- Biasanya simetris (muncul di kedua sisi)
- Tidak menimbulkan rasa sakit
- Tumbuh perlahan sejak masa remaja atau dewasa muda
- Konsistensi keras dan tidak bergerak
- Tidak berubah menjadi kanker
Menurut penelitian oleh Antoniades et al. (1998), torus mandibularis ditemukan pada sekitar 7-27% populasi dunia, dengan variasi tergantung ras, genetika, dan faktor lingkungan.
Kenapa Bisa Tumbuh Tulang di Rahang?
Pertanyaan ini sering muncul, dan jawabannya menarik. Sejauh ini, penyebab pasti torus mandibularis belum sepenuhnya dipahami, namun terdapat beberapa faktor risiko yang diyakini berperan:
1. Faktor Genetik Beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh Eggen dan Natvig (1991), menunjukkan adanya kecenderungan familial, yaitu seseorang yang memiliki orang tua atau saudara dengan torus mandibularis lebih mungkin memilikinya juga.
2. Stres Oklusal dan Fungsi Mengunyah Aktivitas mengunyah berlebihan atau kebiasaan bruxism (menggesek gigi saat tidur) diyakini memberikan tekanan mekanis yang merangsang pertumbuhan tulang rahang bawah.
3. Faktor Lingkungan dan Diet Asupan kalsium yang tinggi atau makanan keras dapat memberi stimulasi mekanis ke tulang rahang, memicu pertumbuhan torus.
4. Faktor Anatomi Bentuk rahang dan gigi tertentu bisa mempengaruhi tekanan ke area tulang, memicu eksostosis.
Seperti Apa Bentuknya?
Mandibular torium biasanya berbentuk bulat atau oval, muncul di area premolar (gigi geraham depan). Ukurannya bisa kecil (sekitar beberapa milimeter), hingga besar dan mencolok (lebih dari 2 cm). Bentuk dan jumlahnya pun bisa bervariasi: satu sisi, dua sisi, satu benjolan, atau lebih dari dua.
Untuk masyarakat awam, bentuk ini sering menimbulkan kecemasan karena terlihat “aneh” dan terasa keras. Namun, dokter gigi atau spesialis bedah mulut yang berpengalaman akan langsung bisa mengenali bahwa ini adalah kondisi jinak.
Apakah Mandibular Torium Berbahaya?
Tidak. Ini bukan kanker dan tidak akan berubah menjadi kanker. Mandibular torium adalah kondisi jinak dan tidak menyakitkan, meskipun kadang bisa mengganggu kenyamanan.
Namun, ada beberapa situasi di mana torus mandibularis bisa menimbulkan masalah:
- Sulit saat menggunakan gigi palsu (dentures)
- Rentan luka atau iritasi, terutama saat menyikat gigi terlalu keras atau tergigit saat makan
- Mengganggu bicara atau fungsi mulut jika ukurannya sangat besar
Jika tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, torus ini tidak perlu dioperasi atau dihilangkan.
Bagaimana Cara Mendiagnosisnya?
Diagnosis mandibular torium umumnya dilakukan secara klinis, melalui pemeriksaan mulut langsung oleh dokter gigi. Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan radiologis (rontgen), kecuali jika perlu memastikan tidak ada kondisi lain yang menyertainya.
Dokter akan memeriksa:
- Lokasi dan simetri benjolan
- Konsistensi (keras dan tidak nyeri)
- Hubungan dengan gigi dan jaringan sekitarnya
- Apakah ada keluhan seperti sakit, luka, atau gangguan fungsi
Apakah Harus Dioperasi?
Torus mandibularis tidak harus dioperasi kecuali bila:
- Mengganggu pemasangan gigi tiruan
- Menyebabkan trauma berulang (tergigit, luka)
- Ukurannya sangat besar hingga mengganggu bicara atau makan
Prosedur pengangkatan dilakukan dengan pembedahan minor oleh dokter bedah mulut, biasanya di bawah anestesi lokal. Proses penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu, dan biasanya tidak menimbulkan komplikasi berarti.
Bagaimana Perawatannya?
Jika tidak dioperasi, torus mandibularis tetap bisa “hidup berdampingan” dengan kita. Berikut tips merawatnya:
- Sikat gigi dengan lembut untuk menghindari iritasi
- Hindari makanan terlalu keras atau tajam
- Gunakan pelindung gigi (mouthguard) bila Anda sering menggertakkan gigi
- Rutin periksa ke dokter gigi, terutama jika benjolan tumbuh atau terasa nyeri
Apakah Bisa Dicegah?
Karena faktor genetik berperan, torus mandibularis tidak bisa dicegah sepenuhnya. Namun, Anda bisa mengurangi kemungkinan pertumbuhan yang agresif dengan:
- Mengontrol tekanan gigi saat tidur (gunakan night guard)
- Menghindari trauma berulang ke daerah rahang bawah
- Menjaga kesehatan mulut secara umum
Studi Kasus Ringan: Kisah “Pak Budi”
Pak Budi (45 tahun) datang ke dokter gigi karena merasa ada “benjolan aneh” di bawah lidahnya sejak 10 tahun terakhir. Ia tidak merasa sakit, hanya risih saat makan. Setelah diperiksa, dokter menyatakan itu adalah torus mandibularis, dan tidak perlu dikhawatirkan.
Pak Budi memilih untuk tidak mengoperasi karena tidak mengganggu fungsi mulutnya. Dokter hanya menyarankan perawatan gigi rutin, dan memberi edukasi agar Pak Budi tidak stres berlebihan.
Ini contoh nyata bahwa edukasi dan pendekatan komunikatif dari tenaga kesehatan bisa mengurangi ketakutan pasien secara signifikan.
Perbedaan Mandibular Torium dan Kondisi Lain
Mandibular torium adalah pertumbuhan tulang jinak yang umum terjadi, tidak berbahaya, dan tidak menular. Meskipun sering membuat cemas karena bentuknya, kondisi ini jarang memerlukan tindakan medis kecuali menimbulkan gangguan.
Yang penting adalah mengenalinya dengan benar, menjaga kebersihan mulut, dan berkonsultasi ke dokter gigi secara rutin. Dengan pemahaman yang baik, Anda tidak perlu takut dengan benjolan misterius ini.
Referensi Ilmiah
- Antoniades, D. Z., et al. (1998). "Prevalence of torus palatinus and torus mandibularis in Greek population." Acta Odontologica Scandinavica, 56(5), 268-271.
- Eggen, S., & Natvig, B. (1991). "Torus mandibularis: an estimation of the degree of genetic determination." Acta Odontologica Scandinavica, 49(5), 343–346.
- Jainkittivong, A., & Langlais, R. P. (2000). "Buccal and palatal exostoses: prevalence and concurrence with torus palatinus and torus mandibularis." Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and Endodontics, 90(1), 48–53.
- Neville, B. W., et al. (2015). Oral and Maxillofacial Pathology. 4th ed. Elsevier.
