Ada sesuatu yang menarik dari manusia yang terlalu yakin bahwa dirinya sedang memperjuangkan kebenaran. Ia biasanya datang dengan prinsip, membawa standar, berbicara tentang moral, aturan, profesionalitas, dan ketertiban, lalu perlahan mulai merasa bahwa semua yang berbeda dari dirinya adalah sesuatu yang keliru. Pada awalnya, sikap seperti ini memang terlihat mengagumkan. Ia tampak tegas, berintegritas, tidak mudah berkompromi, dan seolah mempunyai pendirian yang tidak bisa dibeli. Namun persoalan baru muncul ketika prinsip tersebut tidak lagi digunakan untuk mengatur dirinya sendiri, melainkan dipakai sebagai alat untuk mengatur, menghakimi, bahkan merendahkan orang lain. Di sinilah idealisme mulai kehilangan keindahannya. Sebab idealisme yang tidak disertai kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan yang sangat sulit dikenali, karena ia tidak datang dengan wajah angkuh, melainkan dengan pakaian moral dan bahasa yang terdengar sangat benar.
Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak pernah hidup sendirian dengan standar yang dibuatnya sendiri. Aristoteles memandang manusia sebagai makhluk yang secara alamiah hidup dalam komunitas, sementara Hannah Arendt menempatkan pluralitas sebagai salah satu kondisi fundamental kehidupan manusia. Artinya, perbedaan bukanlah kesalahan sistem yang harus segera diperbaiki, melainkan bagian dari kenyataan bahwa manusia memang memiliki pengalaman, kepentingan, kemampuan, pemikiran, dan cara melihat dunia yang berbeda. Maka menjadi persoalan ketika seseorang menganggap bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seluruhnya berjalan sesuai dengan ukuran yang ada di kepalanya. Ia lupa bahwa masyarakat bukan ruang kelas tempat dirinya menjadi guru tunggal, dan orang lain bukan murid yang harus mendapatkan nilai berdasarkan seberapa dekat perilakunya dengan standar pribadi sang guru. Dalam masyarakat, kita justru diuji bukan hanya oleh kemampuan mempertahankan prinsip, tetapi juga oleh kemampuan hidup bersama orang yang tidak selalu berpikir seperti kita.
Hal yang sama terjadi dalam dunia pekerjaan. Organisasi dibangun berdasarkan pembagian peran, tanggung jawab, kewenangan, koordinasi, dan tupoksi. Tidak semua orang harus mengerjakan hal yang sama karena memang tidak semua orang ditempatkan untuk melakukan pekerjaan yang sama. Pembagian kerja merupakan bagian penting dari kehidupan organisasi dan bahkan telah lama menjadi perhatian dalam pemikiran filsafat mengenai kerja dan kehidupan sosial. Karena itu, seseorang yang benar-benar memahami profesionalitas seharusnya mampu mengetahui batas antara kepedulian dan campur tangan, antara koordinasi dan ikut mengatur, antara kritik yang diperlukan dan komentar yang hanya lahir dari rasa tidak suka. Sayangnya, di lingkungan kerja sering muncul fenomena yang cukup menggelitik: ada orang yang sangat hafal tupoksi orang lain, tetapi entah mengapa agak lupa dengan tupoksinya sendiri. Ia mengetahui siapa mengerjakan apa, siapa mendapat tugas tertentu, siapa menghadiri kegiatan tertentu, siapa memperoleh kepercayaan tertentu, bahkan mungkin lebih rajin mengawasi pekerjaan orang lain daripada menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Barangkali jika ada jabatan resmi bernama “Pengawas Kehidupan Orang Lain”, orang seperti ini sudah lama layak mendapatkan promosi.
Yang lebih menarik adalah ketika rasa iri terhadap aktivitas atau tupoksi orang lain kemudian disamarkan dengan bahasa idealisme. Ketika seseorang merasa tidak nyaman melihat rekannya mendapatkan kesempatan tertentu, ia tidak selalu berkata, “Saya iri.” Itu terlalu jujur. Ia mungkin akan berkata, “Saya hanya mempertanyakan prosedurnya.” Ketika tidak suka melihat orang lain dipercaya menjalankan suatu pekerjaan, ia tidak berkata, “Mengapa bukan saya?” melainkan, “Saya hanya ingin memastikan semuanya sesuai koridor.” Ketika keberhasilan orang lain membuatnya gelisah, ia tidak berkata, “Saya tidak suka dia berhasil,” melainkan mulai mencari celah, kesalahan, kekurangan, atau alasan mengapa keberhasilan tersebut sebenarnya tidak terlalu istimewa. Bahasa berubah menjadi lebih formal, lebih moral, dan lebih birokratis, tetapi substansinya belum tentu berubah. Iri hati ternyata juga bisa memakai jas, membawa map, membuka regulasi, lalu berbicara dengan nada sangat serius.
Di sinilah pentingnya membedakan antara prinsip dan ego. Prinsip pada dasarnya digunakan untuk mengatur diri sendiri sebelum digunakan untuk menilai orang lain. Seseorang yang benar-benar memegang prinsip tidak harus selalu mengumumkan bahwa dirinya berprinsip. Ia cukup menjalankan prinsip tersebut dalam perilakunya. Ia bekerja dengan baik, menjaga tanggung jawab, menghormati kewenangan, tidak mengambil hak orang lain, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan. Sebaliknya, ego membutuhkan pengakuan bahwa dirinya benar. Ego tidak puas hanya dengan menjalankan prinsip; ego ingin orang lain mengetahui bahwa dirinya menjalankan prinsip, bahkan lebih jauh lagi, ingin orang lain mengikuti prinsip tersebut. Ketika tidak diikuti, ia merasa terganggu. Ketika dikritik, ia merasa diserang. Ketika orang lain mempunyai cara berbeda, ia menganggapnya sebagai ancaman. Pada titik itu, yang sedang dipertahankan bukan lagi prinsip, melainkan harga diri.
Confucius memberikan perhatian besar terhadap peran, hubungan, kewajiban, dan keteraturan dalam kehidupan sosial. Gagasan tersebut menjadi sangat relevan dalam dunia kerja modern karena sebuah organisasi tidak mungkin berjalan jika setiap orang merasa mempunyai hak untuk mengatur seluruh pekerjaan orang lain. Ada orang yang memiliki tanggung jawab tertentu, ada yang mempunyai kewenangan tertentu, dan ada pula yang memiliki ruang kerja yang memang berbeda. Mengetahui peran sendiri bukan berarti menjadi egois atau tidak peduli terhadap orang lain. Justru sebaliknya, mengetahui peran merupakan bentuk kedewasaan sosial. Orang yang memahami dirinya tidak perlu iri terhadap posisi orang lain karena ia mengetahui bahwa kontribusi setiap orang mempunyai tempatnya masing-masing. Ia tidak merasa harga dirinya turun hanya karena rekannya mendapatkan kesempatan yang berbeda. Ia tidak menganggap keberhasilan orang lain sebagai kekalahannya sendiri. Ia memahami bahwa organisasi bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling menonjol, melainkan mekanisme kerja bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Masalahnya, sebagian orang justru menjadikan tempat kerja sebagai arena pembuktian diri. Mereka tidak hanya ingin pekerjaannya selesai, tetapi juga ingin dirinya dianggap paling benar. Mereka tidak hanya ingin aturan dijalankan, tetapi ingin dirinya menjadi orang yang paling memahami aturan. Mereka tidak hanya ingin pekerjaan berjalan baik, tetapi ingin semua orang menjalankan pekerjaan dengan gaya yang mereka anggap benar. Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya menjadi ruang profesional berubah menjadi arena adu ego yang sangat halus. Tidak ada yang berteriak, tetapi sindiran bertebaran. Tidak ada yang mengaku iri, tetapi aktivitas orang lain terus diperhatikan. Tidak ada yang mengatakan dirinya paling hebat, tetapi setiap orang yang berbeda selalu dianggap kurang. Dan yang paling menarik, semuanya bisa dilakukan sambil membawa kata-kata seperti “integritas”, “profesionalitas”, “moral”, “aturan”, dan “prinsip”.
Padahal orang yang benar-benar memiliki integritas tidak perlu merendahkan orang lain untuk membuktikan dirinya bermoral. Ia tidak perlu menunjukkan bahwa dirinya paling bersih dengan mencari-cari noda pada orang lain. Ia juga tidak perlu menjadikan prinsip sebagai senjata untuk membuat orang lain terlihat bodoh. Sebab moralitas seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia perjuangkan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika ia merasa dirinya berada di pihak yang benar. Seseorang bisa benar mengenai sebuah aturan tetapi tetap salah dalam cara memperlakukan manusia. Seseorang bisa memiliki prinsip yang baik tetapi menyampaikannya dengan kesombongan. Seseorang bisa memiliki standar tinggi tetapi menjadikan standar tersebut sebagai alasan untuk meremehkan orang lain. Karena itu, “saya benar” tidak otomatis berarti “cara saya memperlakukan orang lain juga benar”.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu dipahami oleh para manusia yang terlalu idealis adalah bahwa dunia kerja bukan kerajaan pribadi dan masyarakat bukan perpanjangan dari ego individual. Tidak semua orang harus berpikir seperti kita, tidak semua pekerjaan harus dilakukan dengan cara kita, tidak semua keputusan harus mengikuti selera kita, dan tidak semua keberhasilan orang lain merupakan ketidakadilan terhadap diri kita. Ada waktunya mengkritik, ada waktunya mengingatkan, ada waktunya berkoordinasi, dan ada waktunya diam karena memang bukan wilayah kita. Kemampuan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menghormati batas justru merupakan bentuk kecerdasan sosial yang sering kali lebih sulit daripada sekadar mengetahui aturan.
Maka bekerja sesuai tupoksi sebenarnya bukan sekadar kalimat administratif. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kedewasaan: kerjakan apa yang menjadi tanggung jawabmu, hormati kewenangan orang lain, jangan iri terhadap aktivitas yang bukan bagianmu, jangan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ancaman, dan jangan menggunakan moralitas untuk menyamarkan ego. Jika memang ada kesalahan, kritiklah pekerjaannya, bukan martabat orangnya. Jika ada pelanggaran, sampaikan melalui koridor yang benar, bukan melalui gosip dan penghakiman. Jika ada sesuatu yang bukan kewenangan kita, biarkan orang yang bertanggung jawab menjalankannya. Dan jika orang lain berhasil melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan, mungkin tidak perlu buru-buru mencari alasan mengapa keberhasilan itu salah. Bisa jadi mereka memang sedang menjalankan tupoksinya, sementara kita hanya terlalu sibuk memperhatikan mereka sampai lupa mengerjakan tupoksi sendiri.
Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang merasa dirinya paling benar. Dunia membutuhkan manusia yang mampu memiliki prinsip tanpa kehilangan empati, memiliki standar tanpa kehilangan kerendahan hati, mempunyai keberanian untuk mengkritik tanpa berubah menjadi penghakim, dan mampu menjalankan pekerjaannya tanpa iri terhadap pekerjaan orang lain. Idealisme tetap penting, bahkan sangat penting, tetapi idealisme yang sehat seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan semakin angkuh. Sebab orang yang benar-benar memahami kehidupan bermasyarakat akan menyadari bahwa manusia memang berbeda, dan orang yang benar-benar memahami dunia kerja akan menyadari bahwa setiap orang mempunyai peran yang berbeda. Jadi silakan idealis, silakan berprinsip, silakan mempertahankan integritas, tetapi jangan sampai idealisme membuat kita lupa bahwa kita hidup di antara manusia lain. Jangan sampai prinsip membuat kita kehilangan akal sehat, jangan sampai moralitas berubah menjadi alat untuk merendahkan, dan jangan sampai ego berdandan terlalu rapi hingga kita sendiri tidak sadar bahwa yang sedang kita bela bukan lagi kebenaran, melainkan diri kita sendiri.