📢 Selamat datang di e-GalihOS! Temukan artikel menarik seputar teknologi, alkisah dan tips blog kreatif lainnya 🌐📱 📢

Kenapa Orang Kesurupan Selalu Ada Pendamping? Wkwkwk

Aneh juga manusia. Ketika seseorang kesurupan, yang kesurupan satu orang, tetapi yang sibuk menjelaskan bisa satu kampung. Yang tubuhnya bergerak sendiri satu orang, tetapi yang tahu siapa jin di dalamnya tiba-tiba banyak. Ada yang mengatakan jin A, ada yang mengatakan jin B, ada yang tahu asal-usulnya, ada yang tahu tujuannya, bahkan ada yang dengan penuh keyakinan mengaku bisa berbicara langsung dengannya. Lebih menarik lagi, makhluk ghaib yang konon sangat misterius itu biasanya baru “teridentifikasi” setelah manusia di sekelilingnya mulai bertanya. Seolah-olah dunia jin pun membutuhkan moderator, penerjemah, dan sesi tanya jawab. Wkwkwk.

Coba bayangkan logikanya. Seseorang tiba-tiba berteriak, tubuhnya kejang, matanya berubah, suaranya berbeda. Lalu orang-orang berkumpul. “Ada jin!” katanya. Kemudian muncul seorang yang merasa lebih tahu. “Saya bisa komunikasi.” Mulailah wawancara: “Siapa kamu? Dari mana? Kenapa masuk? Mau apa? Siapa yang mengirim?” Dan anehnya, hampir selalu ada jawaban. Kalau tidak ada jawaban, manusia yang membantu mencarikan maknanya. Kalau jawabannya tidak jelas, manusia yang menerjemahkan. Kalau perilakunya berubah, manusia yang menjelaskan. Pada akhirnya, makhluk yang katanya berada di luar jangkauan manusia justru menjadi tokoh utama dalam sebuah percakapan yang seluruh aturannya dibuat oleh manusia.

Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih menarik daripada sekadar “apakah jin itu ada?” Pertanyaannya adalah: bagaimana kita tahu bahwa seseorang benar-benar sedang berkomunikasi dengan jin? Karena mengatakan “saya merasakan sesuatu” berbeda dengan mengatakan “saya tahu sesuatu.” Dan perbedaan kecil antara merasa tahu dengan benar-benar mengetahui itulah yang sering hilang ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang dianggap ghaib.

Ada satu hal lagi yang lucu. Manusia zaman sekarang hidup di era internet, kamera, kecerdasan buatan, satelit, teleskop luar angkasa, dan teknologi medis yang mampu melihat bagian tubuh yang dahulu tidak mungkin dilihat. Tetapi ketika seseorang tiba-tiba berbicara dengan suara berbeda, kita masih bisa dengan cepat sampai pada kesimpulan bahwa dia sedang menjadi “saluran komunikasi” makhluk ghaib. Bahkan lebih jauh lagi, ada manusia yang kemudian mengklaim mempunyai kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan dunia tersebut. Seolah-olah setelah ribuan tahun peradaban berkembang, ternyata ada profesi yang tidak pernah hilang: manusia yang mengaku punya nomor WhatsApp dunia ghaib.

Dan di sinilah cerita menjadi semakin menarik ketika nama Nabi Sulaiman ikut dibawa-bawa. Seolah-olah kemampuan berkomunikasi dengan jin adalah semacam fitur spiritual yang bisa diwariskan, dilatih, atau ditemukan oleh orang tertentu. Padahal kisah Nabi Sulaiman dalam tradisi Islam justru menempatkan kemampuan tersebut dalam konteks kekuasaan dan karunia yang sangat khusus dari Allah. Menyamakan kemampuan seorang nabi dengan klaim paranormal seseorang pada zaman sekarang bukan sekadar persoalan keberanian berbicara; itu membutuhkan dasar yang jauh lebih kuat.

Pertanyaannya sederhana: kalau benar seseorang mempunyai kemampuan seperti itu, apa yang sebenarnya dapat membedakan kemampuannya dari sugesti, tebakan, pembacaan bahasa tubuh, informasi yang sebelumnya sudah diketahui, atau sekadar kemampuan membuat sebuah cerita terdengar meyakinkan?

Sebab manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat sesuatu yang tidak diketahui terasa seolah-olah diketahui.

Dan mungkin, justru karena itulah orang yang kesurupan hampir selalu mempunyai pendamping. Bukan hanya karena tubuhnya membutuhkan pertolongan, tetapi karena manusia membutuhkan seseorang untuk memberikan cerita terhadap sesuatu yang belum dipahaminya.

Dari sinilah persoalan menjadi jauh lebih menarik.

Pengalaman seseorang bisa nyata bagi dirinya. Ketakutannya nyata. Perubahan perilakunya nyata. Tubuhnya benar-benar dapat mengalami sesuatu. Tetapi ketika kita mulai mengatakan “ini pasti jin,” “ini jin kiriman,” “ini penunggu tempat,” atau “saya tahu siapa yang berbicara melalui tubuhnya,” kita sudah melangkah dari pengalaman menuju kesimpulan.

Dan setiap kesimpulan membutuhkan alasan.

Di sinilah kita mulai masuk ke pertanyaan yang sebenarnya.

Kenapa orang kesurupan selalu ada pendamping?

Kenapa selalu ada orang yang merasa tahu?

Kenapa makhluk ghaib yang katanya sulit dilihat manusia justru begitu mudah diwawancarai?

Dan yang paling penting: apakah kita benar-benar sedang berhadapan dengan sesuatu dari dunia ghaib, atau sebenarnya sedang menyaksikan bagaimana manusia menciptakan penjelasan ketika berhadapan dengan sesuatu yang belum ia pahami?

Wkwkwk.

GALIHOS

Saya seorang blogger dan vlogger. Hidup saya adalah kumpulan cerita, yang terekam dalam piksel dan kata. Saya berkembang di bawah tekanan dengan menjunjung tinggi profesionalitas, merangkul seni, cita rasa, dan jalan yang tak berujung. Alam adalah tempat istirahat saya. Namun, hanya sedikit yang tahu obsesi saya dengan disiplin ilmu spionase, peretasan dan kejahatan digital. Saya mempelajari infiltrasi, enkripsi dan cara melacak jejak digital. Hanya sekadar pembelajaran atau begitulah yang saya kira. Setiap petualangan, setiap rahasia, saya dokumentasikan. Media sosial saya menyimpan masa lalu saya, kebenaran yang mutlak. Satu hal yang pasti, saya akan menjaga konfidensial saya, karena selalu ada penipu yang menyamar sebagai pendengar dan selalu ada pendengar yang mengintai dalam kegelapan.

Lebih baru Lebih lama