Manusia senang memberi nama kepada keburukan. Ia menyebut ular sebagai licik, anjing sebagai penjilat, babi sebagai sesuatu yang menjijikkan. Dengan begitu manusia merasa sudah berhasil memisahkan dirinya dari semua yang dianggap rendah. Seolah-olah dengan menunjuk keburukan di luar dirinya, ia otomatis menjadi lebih baik. Padahal sering kali manusia hanya lebih pandai menyembunyikan nalurinya. Ular adalah ahli berpuasa, tetapi mulutnya menyimpan bisa. Anjing dikenal cerdas, tetapi dalam bahasa manusia ia sering dijadikan simbol mereka yang terlalu pandai menjilat. Babi dianggap haram, tetapi lihatlah ironi kecilnya: ia berjalan lurus tanpa perlu membuat pidato tentang moralitas. Manusia justru memiliki kemampuan yang jauh lebih rumit. Ia bisa berpuasa sambil menyimpan kebencian, tersenyum sambil menghitung keuntungan, berbicara tentang kejujuran sambil menyembunyikan kepentingannya, dan meneriakkan keberanian sambil memastikan ada seribu orang berdiri di belakangnya.
Kita hidup di dunia yang penuh dengan orang-orang yang tidak benar-benar mencari kebenaran. Mereka mencari sesuatu yang lebih nyaman: pembenaran. Sebab kebenaran sering kali menyakitkan, sementara pembenaran bisa membuat seseorang tidur dengan tenang. Maka manusia menciptakan moral, bukan selalu untuk menjadi baik, tetapi sering kali untuk menentukan siapa yang boleh disebut baik dan siapa yang harus disebut buruk. Moralitas menjadi senjata yang sangat halus. Tidak perlu pisau, tidak perlu pukulan. Cukup sebuah label: pengkhianat, orang jahat, tidak tahu diri, tidak punya etika, melawan aturan. Dengan beberapa kata, seseorang dapat dikucilkan dari gerombolan. Dan manusia takut dikucilkan. Bukan karena ia selalu membutuhkan orang lain, tetapi karena sejak kecil ia diajarkan bahwa keberadaan dirinya harus mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ia belajar bahwa menjadi berbeda berarti berbahaya, bahwa diam bersama kelompok lebih aman daripada berbicara sendirian, dan bahwa kebenaran yang diterima ramai-ramai terasa lebih nyaman daripada kebenaran yang hanya dimiliki seorang diri.
Akhirnya lahirlah manusia yang tidak benar-benar berpikir. Ia hanya mengulang. Tidak benar-benar memilih. Ia mengikuti. Tidak benar-benar berani. Ia hanya berada di tempat yang aman. Itulah sebabnya melihat nyali seseorang sebenarnya sangat sederhana: pisahkan saja dia dari gerombolannya. Jangan beri dia penonton, jangan beri dia pendukung, jangan beri dia jabatan, jangan beri dia nama besar, dan jangan beri dia orang-orang yang siap membenarkan setiap perkataannya. Lalu lihat apa yang tersisa. Karena ketika gerombolan pergi, banyak manusia mendadak kehilangan identitas. Suara mereka mengecil, keyakinan mereka goyah, prinsip mereka berubah, dan keberanian yang sebelumnya terdengar seperti petir ternyata hanya gema dari suara orang banyak. Manusia seperti itu bukan sedang berdiri. Ia sedang ditopang. Ada perbedaan besar antara seseorang yang berdiri sendiri dan seseorang yang terlihat berdiri karena disangga oleh seratus orang. Yang pertama memiliki kaki. Yang kedua memiliki kerumunan.
Kerumunan adalah tempat yang nyaman bagi orang yang takut bertemu dengan dirinya sendiri. Di sana seseorang tidak perlu bertanggung jawab sepenuhnya atas pikirannya. Ia hanya perlu mengatakan, "Kami semua berpikir begitu." Kalimat itu sangat nyaman, karena ketika semua orang salah, kesalahan terasa seperti kebenaran bersama. Di sinilah manusia menjadi lucu sekaligus menyedihkan. Ia takut menjadi dirinya sendiri, tetapi bangga menyebut dirinya bebas. Ia mengatakan memiliki prinsip, tetapi prinsipnya berubah mengikuti siapa yang sedang berkuasa. Ia mengatakan tidak takut kehilangan siapa pun, tetapi seluruh hidupnya dihabiskan untuk mendapatkan penerimaan. Ia mengatakan tidak peduli dengan penilaian orang lain, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membangun citra di mata mereka. Lalu ia menyebut dirinya merdeka. Merdeka dari apa? Dari dirinya sendiri?
Dalam semangat pemikiran Nietzsche, kenyamanan semacam itu layak dicurigai. Manusia sering bersembunyi di balik moralitas, nilai, dan kerumunan karena menjadi dirinya sendiri membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti norma. Dan jika ditarik ke arah Stirner, persoalannya menjadi semakin telanjang: berapa banyak dari "prinsip" yang kita anggap milik kita sebenarnya hanya gagasan yang telah kita izinkan menguasai kita? Kita berkata, "Ini kewajiban saya." Tetapi siapa yang menanamkan kewajiban itu? Kita berkata, "Ini yang benar." Tetapi benar menurut siapa? Kita berkata, "Semua orang melakukannya." Lalu? Apakah banyaknya orang yang melakukan sesuatu otomatis membuatnya benar? Tidak. Kerumunan hanya membuktikan bahwa banyak orang melakukan hal yang sama. Tidak lebih.
Karena itu jangan terlalu cepat takut menjadi minoritas. Kadang-kadang menjadi sendirian jauh lebih jujur daripada menjadi bagian dari kelompok yang memaksa kita berbohong kepada diri sendiri. Kesendirian memang dingin, tetapi setidaknya di sana kita tidak perlu berpura-pura. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pembenaran, tidak ada orang yang harus kita puaskan. Hanya ada diri sendiri dan konsekuensi dari pilihan sendiri. Dan mungkin itulah bentuk kebebasan yang paling menakutkan: bukan bebas melakukan apa saja, tetapi bebas dari kebutuhan untuk terus-menerus mendapatkan persetujuan. Seseorang yang benar-benar memiliki dirinya sendiri tidak selalu membutuhkan penonton untuk merasa dirinya ada.
Namun menjadi bebas bukan berarti menjadi manusia yang kejam. Menjadi individual bukan berarti menjadi egois dalam arti dangkal. Justru seseorang yang tidak lagi hidup demi tepuk tangan orang lain memiliki kesempatan lebih besar untuk bertindak tanpa kepalsuan. Ia membantu bukan karena ingin dipuji. Ia menolak bukan karena ingin terlihat keras. Ia mencintai bukan karena takut ditinggalkan. Ia pergi bukan karena ingin menghukum. Ia tinggal bukan karena membutuhkan pengakuan. Ia melakukan sesuatu karena memang memilihnya. Dan mungkin di sanalah manusia akhirnya mulai memiliki dirinya sendiri, bukan ketika ia berhasil menguasai orang lain, tetapi ketika orang lain tidak lagi mudah menguasai dirinya.
Sebab pada akhirnya, gerombolan akan selalu berubah. Hari ini mereka memuji, besok mereka mencaci. Hari ini seseorang dianggap pahlawan, besok ia dijadikan musuh. Hari ini mereka berdiri di belakangmu, besok mereka mungkin berdiri di belakang orang lain. Begitulah kerumunan. Ia tidak memiliki ingatan yang setia. Ia hanya memiliki arah yang sedang ramai. Karena itu jangan bangun identitasmu dari tepuk tangan mereka. Tepuk tangan adalah suara yang paling cepat hilang. Bangunlah dirimu dari sesuatu yang masih tersisa ketika semua suara berhenti. Dan ketika suatu hari kau berdiri sendirian, tanpa gerombolan, tanpa jabatan, tanpa nama besar, tanpa orang-orang yang siap membelamu, lalu kau masih mampu menatap dirimu sendiri tanpa rasa malu, mungkin saat itulah kau baru mengetahui siapa dirimu sebenarnya.
Ular tidak perlu mengumumkan bahwa ia memiliki bisa. Anjing tidak perlu menjelaskan mengapa ia menjilat. Babi tidak perlu berpidato tentang bagaimana ia berjalan. Hanya manusia yang sering merasa perlu menjelaskan dirinya sendiri. Mungkin karena jauh di dalam dirinya, ia sendiri belum yakin siapa dirinya. Maka pertanyaan yang paling mengerikan bukanlah, "Apakah aku orang baik?" Pertanyaan yang lebih gelap adalah: "Jika seluruh dunia berhenti melihatku, jika tidak ada yang memuji, tidak ada yang takut, tidak ada yang membela, dan tidak ada yang peduli, apakah aku masih menjadi diriku sendiri?"
Karena keberanian tidak diuji ketika banyak orang berdiri di belakangmu. Keberanian diuji ketika tidak ada seorang pun. Dan karakter tidak terlihat ketika dunia sedang melihat. Karakter justru muncul ketika dunia sudah pergi.