Tidak ada karangan bunga saat ia pulang paling malam.
Tidak ada tepuk tangan saat ia memilih diam demi menjaga rumah tetap utuh.
Tidak ada panggung, tidak ada sorot lampu, bahkan sering kali tidak ada ucapan terima kasih.
Laki-laki tumbuh dalam sunyi yang panjang.
Sejak kecil, ia diajarkan satu hal yang sama berulang kali: jangan menangis.
Tangis dianggap kelemahan, ragu dianggap kegagalan, dan meminta tolong dianggap tidak pantas. Seolah-olah menjadi laki-laki berarti menanggung dunia sendirian, tanpa hak untuk runtuh.
Ia berjalan di hidup seperti prajurit tanpa upacara.
Bangun pagi sebelum matahari benar-benar terbit, pulang ketika malam sudah terlalu lelah untuk menanyakan kabar. Di antara rutinitas itu, ia menukar waktu dengan tanggung jawab, menukar mimpi dengan kewajiban, dan menukar perasaannya dengan senyuman palsu yang katanya “dewasa”.
Laki-laki jarang dirayakan saat hidup.
Ia hanya diharapkan.
Diharapkan kuat.
Diharapkan mampu.
Diharapkan tidak mengeluh.
Saat ia gagal, dunia berkata: “Makanya, jadi laki-laki harus siap.”
Saat ia lelah, dunia menjawab: “Semua juga capek.”
Saat ia terluka, dunia diam.
Tidak banyak yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Tidak banyak yang peduli apakah ia masih sanggup menahan semua itu di dadanya.
Ironisnya, justru ketika napasnya berhenti, dunia tiba-tiba berubah ramah.
Di hari kematiannya, barulah ia benar-benar dirayakan.
Orang-orang datang berbondong-bondong.
Kalimat yang tak pernah diucapkan saat ia hidup, kini diucapkan lantang:
“Dia orang baik.”
“Dia pekerja keras.”
“Dia bertanggung jawab.”
“Dia tulang punggung keluarga.”
Betapa murahnya pujian itu ketika sudah terlambat.
Di hari itu, namanya disebut berkali-kali.
Kisah pengorbanannya diceritakan ulang, seolah semua orang baru sadar betapa berat hidup yang ia jalani. Air mata jatuh dari mata-mata yang dulu terlalu sibuk untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Padahal, jika saja satu kalimat itu diucapkan saat ia masih bernapas—
Mungkin ia tidak akan merasa sendirian.
Mungkin dadanya tidak akan terlalu sesak.
Mungkin hidup tidak terasa sekejam itu.
Namun dunia sering kejam dalam cara yang paling halus:
mengabaikan orang yang paling bisa bertahan.
Laki-laki diajarkan untuk tidak mengeluh, tapi tidak diajarkan ke mana harus menyimpan semua luka.
Ia memendamnya di dada, menumpuknya di kepala, hingga suatu hari tubuhnya menyerah sebelum hatinya sempat meminta tolong.
Banyak laki-laki mati bukan karena takdir semata, tetapi karena kelelahan yang tak pernah dianggap serius.
Kelelahan menjadi kuat setiap hari.
Kelelahan berpura-pura tidak apa-apa.
Kelelahan menanggung ekspektasi tanpa ruang untuk gagal.
Mereka mati pelan-pelan jauh sebelum dikuburkan.
Dan saat kematian datang, dunia menggelar upacara penyesalan.
Bunga ditabur.
Doa dipanjatkan.
Status media sosial dipenuhi kalimat bijak tentang kehilangan.
Semua itu indah—namun kosong bagi yang sudah pergi.
Kematian menjadi satu-satunya momen di mana laki-laki tidak lagi dituntut apa pun.
Tidak perlu kuat.
Tidak perlu mampu.
Tidak perlu menjelaskan diri.
Untuk pertama kalinya, ia diizinkan beristirahat.
Ia dirayakan bukan karena apa yang masih bisa ia lakukan, tetapi karena apa yang telah ia korbankan.
Sayangnya, penghargaan itu datang ketika ia tak lagi bisa mendengarnya.
Masyarakat jarang menyadari bahwa laki-laki juga manusia—bukan mesin penopang hidup.
Ia punya rasa takut, punya kecemasan, punya titik hancur. Namun budaya memaksa mereka untuk menutup semua itu rapat-rapat.
Laki-laki yang terlalu lama diam akhirnya pecah.
Sebagian pecah menjadi amarah.
Sebagian pecah menjadi kecanduan.
Sebagian pecah menjadi keputusasaan.
Dan sebagian memilih pergi diam-diam, meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar mendengarnya.
Ironisnya, ketika ia pergi, barulah semua orang ingin mendengar.
Hari kematian laki-laki sering kali menjadi panggung pengakuan massal.
Pengakuan bahwa ia ternyata penting.
Pengakuan bahwa kehadirannya berarti.
Pengakuan bahwa hidup tanpanya terasa kosong.
Namun hidup bukan tentang pengakuan yang terlambat.
Seandainya dunia sedikit lebih lembut pada laki-laki.
Seandainya pertanyaan “apa kabar?” benar-benar bermakna, bukan sekadar basa-basi.
Seandainya air mata laki-laki tidak dipermalukan.
Seandainya lelahnya tidak dianggap kelemahan.
Mungkin kematian tidak perlu menjadi satu-satunya hari perayaan.
Laki-laki juga pantas dirayakan saat ia masih hidup.
Saat ia pulang dengan bahu berat.
Saat ia memilih bertahan meski ingin menyerah.
Saat ia diam bukan karena tak merasa, tapi karena tak tahu harus berbagi ke siapa.
Merayakan laki-laki bukan berarti memanjakan, tetapi mengakui kemanusiaannya.
Bahwa ia tidak harus selalu kuat.
Bahwa ia boleh rapuh.
Bahwa ia juga berhak ditanya, didengar, dan dipeluk—tanpa harus menunggu kematian sebagai alasan.
Jika hari ini masih ada laki-laki di sekitarmu—ayah, suami, saudara, sahabat—jangan tunggu hari ketika namanya hanya bisa disebut di atas batu nisan.
Katakan sekarang.
Dengarkan sekarang.
Hargai sekarang.
Karena tidak seharusnya hari di mana laki-laki benar-benar dirayakan adalah hari di mana ia sudah tak lagi bernapas.
Dan semoga, suatu hari nanti, kematian bukan lagi satu-satunya panggung penghormatan bagi mereka yang terlalu lama hidup dalam sunyi.